Aksara Lota, Jejak Sunyi Peradaban Pesisir Ende
- 07 Jan 2026 20:42 WIB
- Ende
KBRN, Ende: Di tengah derasnya arus modernisasi, jejak peradaban tulis masyarakat pesisir Ende perlahan meredup. Salah satu warisan yang kini nyaris luput dari ingatan kolektif adalah Aksara Lota, sebuah sistem tulisan tradisional yang pernah hidup dan digunakan secara luas oleh masyarakat Ende tempo dulu.
Aksara Lota bukan sekadar simbol atau ornamen budaya, melainkan saksi bisu perjalanan intelektual masyarakat pesisir yang telah mengenal tradisi tulis jauh sebelum aksara Latin mendominasi ruang-ruang kehidupan. Aksara ini ditorehkan di atas daun lontar menggunakan ujung pisau, kemudian ditebalkan dengan kunyit. Dari medium tulis itulah lahir sebutan “Lota”, adaptasi lokal dari kata lontar.
Dalam program Bincang Budaya RRI Ende, Rabu (7/1/2026), Guru Sejarah sekaligus Peneliti Aksara Lota, Titiek Arsih, S.Pd., mengungkapkan bahwa aksara ini masuk ke wilayah Ende sekitar abad ke-16, bersamaan dengan kedatangan orang Makassar yang menyebarkan agama Islam di kawasan pesisir. Bersama ajaran agama, turut hadir budaya tulis yang kemudian diadopsi dan dilebur dengan tradisi lokal masyarakat Ende.
Secara visual, menurutnya, Aksara Lota memiliki kemiripan dengan huruf Arab gundul dan ditulis dari kanan ke kiri tanpa harakat. Pengaruh Islam tampak kuat dalam pembentukan aksara ini, namun penggunaannya tidak terbatas pada kepentingan keagamaan. Aksara Lota hadir dalam ritual adat, doa-doa, pernikahan, sunatan, pembangunan rumah, hingga ritual tolak perahu, serta digunakan untuk menuliskan silsilah keluarga dan pesan-pesan adat yang dibacakan dengan cara didengungkan.
Menariknya, Aksara Lota tidak pernah menjadi milik kelompok elit semata. Aksara ini digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa pembatasan status sosial.Pewarisannya berlangsung secara alami di ruang-ruang domestik melalui relasi keluarga dan komunitas, tanpa sekolah khusus maupun kelas formal.
Namun, memasuki abad ke-19, tradisi tulis lokal mulai tergeser seiring masuknya tulisan Latin. Generasi muda tidak lagi diajarkan membaca dan menulis Aksara Lota, sementara naskah-naskah lama banyak yang hilang, rusak, atau terabaikan. Akibatnya, keberadaan aksara ini kini berada di ambang kepunahan dan hanya dikuasai oleh segelintir orang lanjut usia.
Meski demikian, harapan belum sepenuhnya padam. Munculnya inisiatif komunitas dan pemanfaatan Aksara Lota di ruang publik menjadi tanda tumbuhnya kembali kesadaran budaya. Merawat Aksara Lota bukan sekadar menjaga warisan masa lalu, tetapi juga menegaskan jati diri dan martabat budaya masyarakat Ende agar tidak benar-benar hilang ditelan zaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....