POLRI Hadir Menguatkan Elis, Anak Disabilitas di Rana Mese
- 06 Jan 2026 19:28 WIB
- Ende
KBRN, Manggarai Timur: Kepedulian tidak mengenal batas, dan itulah yang ditunjukkan oleh Kepolisian Resor Manggarai Timur saat menyalurkan bantuan sosial dari Kapolda Nusa Tenggara Timur, Irjen Pol Dr. Rudi Darmoko, S.I.K., M.Si., kepada seorang anak penyandang disabilitas, Goreti Elista Imu, Senin (05/01/2026).
Di sebuah rumah sederhana di Liang Leso, Desa Watu Mori, Kecamatan Rana Mese, langkah kaki anggota Polres Manggarai Timur menjadi pembawa harapan. Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Wakapolres Kompol Muhamad Arif Sadikin, S.H., mewakili Kapolda NTT, sebagai bentuk nyata kehadiran dan kasih Polri untuk masyarakat yang membutuhkan perhatian lebih. "Polri ingin menunjukkan bahwa kehadirannya tak hanya dalam penegakan hukum, tetapi juga dalam merawat rasa kemanusiaan," ujar Wakapolres Arif.
Elis, yang selama ini dirawat penuh kasih oleh sang ayah, Fransiskus Agin, menerima bantuan itu dengan senyum haru. Bagi keluarga kecil ini, kehadiran polisi tak hanya menjadi simbol keamanan, tetapi juga pelipur hati di tengah keterbatasan.
Bantuan tersebut sebelumnya disalurkan oleh Kasie Dokkes Polres Manggarai Aipda Heribertus Tena, S.Tr.AK., M.Si., sebagai bagian dari program sosial Kapolda NTT yang bertujuan menjangkau warga rentan, khususnya penyandang disabilitas.
Melalui sentuhan sosial seperti ini, diharapkan dapat membangun hubungan yang lebih hangat dan erat antara polri dengan masyarakat, menumbuhkan rasa empati dan solidaritas yang menjadi fondasi kehidupan bersama.
Keluarga Elis pun menyampaikan terima kasih atas perhatian dan bantuan yang diberikan. Harapan mereka sederhana: semoga langkah baik ini terus berlanjut dan menyentuh lebih banyak jiwa yang membutuhkan.
Kisah Elis menggambarkan perjuangan dalam diam, hidup bersama sang ayah dan adik laki-lakinya di tengah segala keterbatasan. Elis, gadis disabilitas berusia 13 tahun, tinggal di sebuah rumah kecil yang nyaris roboh dimakan usia. Atapnya bocor, lantainya berdebu, dan dindingnya berlubang, seolah menjadi cermin ketangguhan mereka dalam menghadapi kerasnya hidup.
Tanpa ibu, keluarga kecil ini bertahan hanya dengan kasih sayang seorang ayah yang menjadi satu-satunya sandaran. Sementara sang adik masih duduk di bangku kelas I SMP, sang ayah bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketika ia harus keluar rumah mencari nafkah, Elis sering kali ditinggal sendiri, menanti dalam sunyi, berharap ayahnya segera pulang.
Sang ayah tak memiliki pekerjaan tetap. Ia bekerja serabutan, kadang sebagai buruh tani, kadang apapun yang bisa memberi penghasilan harian. Namun, meski demi sesuap nasi, setiap siang ia pulang ke rumah, bukan untuk beristirahat, melainkan untuk menyuapi Elis yang tak pernah makan bila bukan ayahnya yang menyuap. Gadis itu akan duduk diam menunggu, bahkan menangis jika terlalu lama ditinggal.
Selama ini, kehadiran sang adik yang bersekolah siang masih menjadi penenang. Namun mulai tahun depan, ketika sang adik harus berangkat pagi, kekhawatiran sang ayah makin menjadi. Elis akan kembali sendiri, menunggu tanpa teman, dalam rumah yang sepi.
Sejak sang istri meninggal dunia beberapa tahun silam, ayah Elis menjalani hidup sebagai duda yang merangkap peran sebagai ibu dan ayah bagi kedua anaknya. Di rumah kecil mereka yang jauh dari layak huni, hanya ada sebuah televisi mungil, sarana satu-satunya yang sengaja diusahakan sang ayah demi menemani hari-hari sepi Elis.
Meski tak bisa bicara, Elis kerap tertawa saat menonton tayangan di televisi. Suara dan gambar seolah memberinya teman, mengusir sepi dalam diam. Meskipun raganya tak mampu menyuarakan isi hati, Elis sesungguhnya memahami ucapan orang lain, selama disampaikan dalam bahasa Manggarai. Kemampuan itu menjadi jembatan penting dalam berkomunikasi, walau terbatas, namun berarti.
Sang ayah bercerita bahwa anaknya memang menyukai hal-hal baru, terutama jika berupa makanan. Ia akan memegangnya lama, menikmatinya dengan cara yang hanya ia pahami, sebelum akhirnya meminta untuk dibukakan.
Kisah keluarga ini mengajarkan makna hidup dalam kesederhanaan yang sesungguhnya. Tanpa kemewahan, tanpa fasilitas khusus, namun penuh kasih dan keteguhan. Sang ayah terus berjuang tanpa lelah, merawat anak-anaknya dalam keterbatasan, memastikan mereka tetap merasa dicintai, dijaga, dan tidak pernah sendiri. Di balik sunyi rumah kecil itu, hidup sebuah cinta besar yang tak tergantikan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....