Keluarga di Cumbi Berjuang Rawat Tiga Anak Disabilitas
- 02 Jan 2026 21:21 WIB
- Ende
KBRN, Manggarai : Di tengah keterbatasan hidup, sebuah keluarga di Desa Cumbi, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai harus berjuang sendiri merawat tiga anak penyandang disabilitas. Hingga saat ini, keluarga ini belum pernah menerima bantuan sosial dari pemerintah, baik berupa Program Keluarga Harapan (PKH), bantuan tunai, sembako, layanan kesehatan, maupun bentuk bantuan lainnya.
Segala bentuk dukungan yang mereka terima hanya datang dari simpati tetangga, komunitas sosial yang kebetulan mengetahui kondisi mereka. Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan dan beban perawatan yang berat, keluarga ini bertahan mengandalkan kekuatan sendiri serta bantuan sesekali dari komunitas sosial.
Henmayati Daima Lemat, Gregorius Renaldi Lemat, dan Apolonia Lemat merupakan tiga dari tujuh anak pasangan Vitalis Lemat (48) dan Maria Fatima Murni Lanut (48) yang hidup dengan kondisi disabilitas. Ketiganya masih membutuhkan perawatan intensif setiap hari.
Gregorius, satu-satunya anak laki-laki, menderita kelumpuhan sejak kecil. Setelah 15 tahun, ia baru mampu berjalan dengan bantuan kursi roda atau kayu penyangga, sementara kedua saudarinya telah mengalami kondisi disabilitas sejak lahir.
Saat masih kecil, Maria, sang ibu, mengisahkan betapa beratnya perjuangan yang harus ia lalui setiap hari. Dalam kesehariannya, ia harus membagi tenaga dan perhatian secara bersamaan untuk ketiga anaknya yang menyandang disabilitas.
Ia kerap menggendong salah satu anak perempuannya, menimang yang lain, sambil terus mendampingi Gregorius agar tetap bisa bergerak dan beraktivitas. "Kadang saya merasa frustasi, lelah urus saya punya anak ini, bahkan anak saya yang lainnya jarang diperhatikan. Sampai saya kadang berpikir saya harus pergi dari rumah ini, karena saya sudah lelah sekali," ujarnya.
Situasi itu membuatnya hampir mustahil untuk mencari nafkah di luar rumah. Dalam keterbatasan fisik dan ekonomi, Maria terus menjalani peran sebagai ibu dengan kekuatan dan kesabaran luar biasa.
Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi keluarga Lemat yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. Meski begitu, semangat dan kasih sayang orang tua mereka tak pernah surut, meski belum pernah mendapatkan bantuan langsung dari pemerintah.
Kini, berbagai saran dari warga sekitar agar ketiga anak penyandang disabilitas ini mengenyam pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB) pernah dicoba oleh keluarga. Salah satu anak perempuan bahkan sempat dititipkan di Panti Asuhan St. Damian Cancar. Namun, keterbatasan kondisi fisik dan ketidakmampuan untuk beradaptasi membuat anak tersebut tidak bertahan lama dan akhirnya kembali ke rumah.
Keluarga ini tinggal di sebuah rumah tembok sederhana tanpa plester, hasil dari penjualan sebidang tanah warisan keluarga dan bantuan dari sejumlah pihak yang peduli. Meski telah puluhan tahun hidup dalam kondisi serba terbatas, Vitalis dan Maria mengaku belum pernah merasakan langsung bantuan sosial dari pemerintah.
Satu-satunya bantuan yang pernah mereka terima datang dari komunitas Motor Grup Klasik pada tahun 2023. "Tuhan terima kasih banyak, masih ada orang yang mau berbagi untuk keluarga kami,” ujar sang ibu dengan mata berkaca-kaca.
Tekanan hidup yang berkepanjangan kerap membuat sang ibu merasa lelah dan frustasi. Perhatian yang tersita untuk ketiga anak disabilitas membuat empat anak lainnya jarang mendapatkan perhatian. Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, keluarga ini terpaksa meminjam uang ke koperasi.
Ironisnya, anak sulung keluarga ini diketahui menjalani perkuliahan dengan biaya sendiri. Orang tuanya baru mengetahui hal tersebut belakangan, karena selama ini mengira sang anak merantau untuk bekerja. "Saya tidak tahu kalau saya punya anak ini kuliah, padahal yang kami tahu dia pergi merantau untuk cari nafkah, bantu-bantu kami di kampung," katanya penuh berkaca-kaca.
Bahkan, menurut pengakuan sang ibu, Maria, pada tahun 2025 pemerintah Desa Cumbi pernah memberikan beras sisa kepada keluarganya. Beras tersebut merupakan hasil pembagian kepada masyarakat, namun mirisnya diberikan tiga bulan setelah penyaluran bantuan dan dalam kondisi yang sudah rusak dan berbau.
Kisah keluarga kecil dan sederhana di Desa Cumbi ini menjadi gambaran nyata tentang perjuangan yang kerap terabaikan dari warga yang bertahan hidup di tengah keterbatasan. Mereka terus berharap, agar kehadiran negara bukan sekadar janji, melainkan wujud nyata yang dirasakan langsung oleh keluarga - keluarga lainnya yang paling membutuhkan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....