Pasca Tragedi Putri Sakinah,Uskup Labuan Bajo Dampingi Keluarga Korban
- 02 Jan 2026 14:36 WIB
- Ende
KBRN,Manggarai Barat: Suasana haru menyelimuti ruang kerja Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo, Selasa (30/12/2025) siang. Di tengah ketidakpastian nasib orang-orang tercinta, air mata jatuh tanpa bisa ditahan.
Andrea Ortuno, warga negara Spanyol, menggenggam erat tangan Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus. Tangisnya pecah. Di hadapan gembala Gereja itu, ia memohon satu hal yang paling mendasar: kekuatan untuk bertahan.
Andrea adalah istri dari Fernando Martin Carreras, pelatih sepak bola asal Spanyol yang hingga kini masih dinyatakan hilang dalam tragedi tenggelamnya kapal wisata KM Putri Sakinah di perairan Selat Padar, Jumat (26/12/2025). Dalam satu peristiwa, ia kehilangan sandaran hidup, sekaligus masa depan yang telah ia bangun bersama keluarga.
Kehadiran Mgr. Maksimus Regus di Labuan Bajo bukan sekadar kunjungan formal. Di tengah libur Natal yang seharusnya penuh sukacita, ia memilih hadir untuk “berjalan bersama” mereka yang terluka, menghadirkan Gereja di ruang paling sunyi dari penderitaan manusia.
Sebelum bertemu keluarga korban, Uskup Maksimus didampingi sejumlah imam dan suster diterima oleh Kepala KSOP Kelas III Labuan Bajo, Stephanus Risdianto. Dalam pertemuan itu, pihak KSOP memaparkan kronologi tenggelamnya KM Putri Sakinah yang terjadi di tengah cuaca buruk di perairan Padar.
Stephanus menjelaskan, hingga hari-hari terakhir pencarian, Tim SAR Gabungan yang melibatkan Basarnas, TNI, dan Polri masih terus menyisir area kecelakaan. Upaya pencarian diperluas, meski tantangan cuaca dan arus laut masih menjadi kendala utama.
Mendengar pemaparan tersebut, Mgr. Maksimus menyampaikan keprihatinan mendalam. Ia menyatakan dukungan penuh terhadap upaya maksimal yang dilakukan para petugas di lapangan, seraya berharap agar pencarian membuahkan hasil bagi keluarga korban.
Pertemuan dengan Andrea Ortuno berlangsung sangat emosional. Di ruang itu, duka terasa begitu nyata. Andrea tampak rapuh, memikul kenyataan pahit kehilangan suami dan anak-anaknya dalam satu tragedi laut yang terjadi jauh dari tanah airnya.
“Saya mohon doa, Bapa Uskup. Doakan agar kami kuat,” ucap Andrea di sela isak tangis.
Mgr. Maksimus merespons dengan peneguhan kebapaan. Ia memimpin doa singkat, memohon kekuatan batin bagi keluarga yang ditinggalkan, sekaligus memohon agar upaya pencarian menemukan titik terang. Momen itu berlanjut ketika Uskup melayani Sakramen Pengakuan Dosa bagi Andrea.
Pelayanan sakramental tersebut menghadirkan kelegaan tersendiri. Di tengah duka yang belum berujung, kehadiran Gereja melalui doa dan pendampingan menjadi sandaran spiritual yang kokoh bagi keluarga korban, yang tengah berjuang di negeri orang.
Usai pertemuan, Andrea mengaku merasa lebih tenang. Ia menyampaikan terima kasih atas perhatian dan pendampingan Gereja lokal yang tidak membiarkannya berjalan sendirian menghadapi tragedi ini.
Tragedi KM Putri Sakinah juga menggema lebih luas sebagai “lonceng peringatan” bagi dunia pariwisata Labuan Bajo. Dalam Surat Gembala Natal 2025, Mgr. Maksimus Regus sebelumnya telah menegaskan pentingnya pariwisata yang berkeadilan—pariwisata yang tidak semata mengejar profit, tetapi menempatkan keselamatan manusia dan kelestarian alam sebagai nilai tertinggi.
Kehadiran Uskup di tengah keluarga korban menegaskan suara kenabian Gereja: solidaritas yang melampaui batas kebangsaan, serta keberpihakan pada martabat manusia dalam situasi krisis.
Tenggelamnya KM Putri Sakinah bukan sekadar catatan kecelakaan transportasi. Ia adalah pelajaran mahal tentang nilai kehidupan, tanggung jawab bersama, dan keharusan untuk berbenah.
Harapan Andrea agar keluarganya ditemukan adalah juga harapan banyak pihak—agar setiap perjalanan wisata di Labuan Bajo menjadi perjalanan yang aman, manusiawi, dan memuliakan kehidupan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....