Lamalera, Warisan Laut dan Tradisi Berburu Paus

  • 30 Des 2025 13:25 WIB
  •  Ende

KBRN, Ende: Di pesisir selatan Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, berdiri Kampung Adat Lamalera. Bagi masyarakat setempat, laut bukan sekadar ruang mencari nafkah, melainkan bagian tak terpisahkan dari identitas, sejarah, dan warisan leluhur yang dijaga lintas generasi. Dari kampung inilah Suku Lamalera dikenal dunia melalui tradisi berburu paus secara tradisional.

Setiap tahun, masyarakat Lamalera memasuki musim leffa atau leffa nuang, yakni musim kemarau yang berlangsung dari Mei hingga September. Pada masa inilah para nelayan bersiap melaut menggunakan paledang, kapal layar kayu tradisional yang digerakkan dengan dayung secara beramai-ramai.

Pelayaran dilakukan tanpa mesin, mengandalkan kekompakan, pengalaman, serta pengetahuan turun-temurun tentang laut. Ketika paus buruan melintas, lama fa atau juru tombak akan berdiri di haluan kapal.

Dari titik inilah tombak dilemparkan ke arah paus dalam satu momen yang sarat ketegangan dan nilai sakral. Tradisi berburu paus ini telah berlangsung selama ratusan tahun dan menjadi ciri khas masyarakat Lamalera sebagai komunitas nelayan adat.

Berdasarkan kajian yang dilansir dari laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, peneliti Ambrosius Oleona dan Pieter Tedu Bataona menyebutkan bahwa orang Lamalera bukan penduduk asli Pulau Lembata. Asal-usul mereka dapat ditelusuri melalui peninggalan sejarah dan syair adat yang diwariskan secara turun-temurun, salah satunya Lia Asa Usu, syair asal-usul yang dilantunkan dalam upacara adat kebesaran.

Syair tersebut mengisahkan perjalanan panjang nenek moyang suku-suku Lamalera yang berasal dari Luwuk. Mereka mengikuti perjalanan armada Patih Gajah Mada menuju perairan Halmahera hingga Irian Barat, lalu berlayar ke selatan menyinggahi Pulau Seram, Pulau Grom, Ambon, Kepulauan Timor, sebelum akhirnya menetap di selatan Pulau Lembata.

Jejak sejarah juga menunjukkan bahwa perpindahan ini berkaitan dengan penaklukan kerajaan-kerajaan di Sulawesi oleh Majapahit pada masa Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Dari perjalanan panjang tersebut lahirlah lima suku utama Lamalera, yakni Batona, Blikolollo, Lamanundek, Tanakrofa, dan Lefotuka, yang kemudian membangun sistem kekerabatan dan desa nelayan yang bertahan hingga kini.

Menjadi nelayan merupakan mata pencaharian utama masyarakat Lamalera sejak ratusan tahun lalu. Keahlian melaut diwariskan secara turun-temurun lebih dari 500 tahun. Namun, berbeda dengan nelayan lainnya, masyarakat Lamalera mengkhususkan diri menangkap ikan berukuran besar, terutama paus, dengan aturan adat yang ketat dan mengikat.

Mulai dari proses pembuatan perahu, penyimpanan alat tangkap, tata cara berburu, hingga pembagian hasil tangkapan, semuanya diatur dalam hukum adat. Tradisi ini kerap bersinggungan dengan isu konservasi, mengingat paus sperma masuk dalam daftar satwa berstatus rentan menurut Daftar Merah IUCN 2018.

Meski demikian, Daya Desa Lamalera A, Alexander Muko Keraf, seperti dilansir dari Kompas.id, menegaskan bahwa perburuan paus di Lamalera dilakukan secara tradisional dan bukan untuk kepentingan industri. Nelayan Lamalera juga tidak memburu paus biru, melainkan lebih sering menangkap paus sperma (Physeter macrocephalus) atau yang dikenal warga setempat sebagai koteklema yang melintasi perairan selatan Lembata.

Menurutnya, tradisi berburu paus merupakan akar budaya Lamalera yang mewariskan nilai luhur seperti gotong royong, kerja keras, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai tersebut juga tercermin dalam sistem barter yang masih dijalankan hingga kini, dengan menukarkan daging paus, lumba-lumba, dan pari manta yang telah dikeringkan dengan hasil bumi dari daerah lain.

Bagi masyarakat Lamalera, laut bukan ruang eksploitasi, melainkan warisan yang dijaga dengan adat dan kearifan lokal. Tradisi berburu paus menjadi penanda hubungan harmonis antara manusia, alam, dan sejarah yang terus hidup di tepian selatan Pulau Lembata.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....