Jagung Titi, Camilan Kampung Penjaga Rindu Lamaholot
- 30 Des 2025 10:04 WIB
- Ende
KBRN, Ende: Di tanah Lamaholot, rindu tidak selalu diucapkan lewat kata. Ia kerap hadir dalam bentuk bunyi batu yang meniti jagung panas, dalam aroma asap dapur kampung, dan dalam rasa gurih yang renyah bernama jagung titi.
Bagi masyarakat Flores Timur, Lembata, Adonara, Solor, hingga Alor Pantar, jagung titi bukan sekadar camilan. Ia adalah bagian dari hidup, dari sejarah, dari ingatan kolektif yang melekat kuat pada identitas orang Lamaholot. Bahkan, bagi mereka yang merantau jauh dari kampung halaman, jagung titi sering menjadi hal pertama yang dicari saat pulang, dan bekal utama ketika kembali pergi.
Jagung telah lama menjadi tanaman pokok masyarakat Nusa Tenggara Timur. Topografi wilayah yang kering dan berbatu justru membuat jagung tumbuh subur dan menjadi sumber kehidupan. Dari sanalah lahir berbagai olahan berbahan dasar jagung, dan jagung titi menjadi salah satu yang paling khas.
Camilan ini biasanya disantap saat sarapan pagi, menemani secangkir kopi hitam, atau menjadi pengganjal lapar di sore hari. Rasanya gurih dan renyah, tidak terlalu manis, tidak pula asin. Sederhana, namun selalu membuat ingin kembali.
Dalam tradisi Lamaholot, jagung titi kerap disajikan untuk menjamu tamu. Ia juga menjadi bekal perjalanan jauh karena tahan lama dan mudah disimpan. Tak jarang, jagung titi dimakan dengan cara disiram air putih agar teksturnya lebih lembut, cara lama yang masih bertahan hingga kini.
Lebih dari soal rasa, jagung titi adalah ikatan budaya. Proses pembuatannya menyimpan nilai tradisi yang diwariskan turun-temurun. Jagung pipilan terlebih dahulu digoreng setengah matang di atas bara api, lalu diletakkan di atas batu datar. Dengan batu lain seukuran genggaman tangan, jagung itu kemudian “dititi” atau ditumbuk hingga pipih.
Proses ini hampir selalu dilakukan oleh perempuan Lamaholot. Duduk di dekat api, meniti jagung panas dengan ketelatenan dan kesabaran. Dari sanalah muncul keyakinan bahwa perempuan Lamaholot memegang peran penting dalam menjaga sejarah dan keberlanjutan jagung titi.
Seiring waktu, jagung titi tidak hanya hidup di dapur-dapur kampung. Ia mulai dikenal luas, digemari wisatawan, dan menjadi oleh-oleh khas dari Flores Timur dan sekitarnya. Pemerintah daerah pun ikut memberi sentuhan modern dengan menghadirkan mesin pembuat emping jagung untuk mendukung industri rumah tangga.
Namun demikian, banyak masyarakat tetap meyakini bahwa jagung titi tradisional memiliki cita rasa yang berbeda. Gurihnya dianggap lebih “hidup” karena lahir dari proses manual dan kearifan lokal.
Kini, jagung titi dipasarkan di berbagai swalayan di NTT dengan harga berkisar antara Rp15.000 hingga Rp20.000 per wadah, tergantung bentuk dan ukuran. Permintaannya pun terus meningkat, terutama saat bulan Ramadan, ketika jagung titi menjadi salah satu camilan favorit saat berbuka puasa.
Bagi orang Lamaholot, belum makan jagung titi rasanya belum lengkap. Ia bukan sekadar pengisi perut, melainkan pembawa nostalgia, pengikat kenangan, dan simbol kampung halaman yang tak tergantikan.
Di setiap butir jagung titi, tersimpan cerita tentang tanah kering yang setia memberi hidup, tentang perempuan yang menjaga api tradisi, dan tentang rindu yang selalu menemukan jalannya pulang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....