Hone Lango Beruin, Payung Leluhur Masyarakat Lembata

  • 29 Des 2025 12:09 WIB
  •  Ende

KBRN, Ende: Hone Lango Beruin bukan sekadar rumah adat bagi masyarakat Lembata, melainkan simbol kehidupan, identitas, dan hubungan sakral dengan leluhur. Rumah adat ini dikenal sebagai rumah tertua atau paling sulung dalam satu suku, yang keberadaannya menjadi penanda asal-usul sekaligus pemersatu seluruh keturunan dalam satu kampung.

Budayawan Lembata, Linus Beseng, menjelaskan bahwa pembangunan Hone Lango Beruin tidak bisa dilakukan sembarangan. Prosesnya melibatkan peran khusus dari berbagai unsur masyarakat adat, mulai dari beruin kolen sebagai pemangku adat tertua, tuho wutun, tukan bedorin, hingga atawinay dari suku lain yang memimpin dan mengawal jalannya ritual adat.

Seluruh elemen ini bekerja sesuai tugas dan tanggung jawab yang diwariskan secara turun-temurun. Menariknya, proses pembangunan rumah adat ini juga membuka ruang partisipasi kolektif. Orang yang kebetulan melintas atau tamu yang tidak diundang (belilin) diperbolehkan ikut membantu sebagai wujud solidaritas dan kebersamaan.

“Semua tahapan, mulai dari penentuan waktu pembangunan hingga pemilihan bahan, mengikuti aturan adat yang diwariskan sejak nenek moyang,” ujar Linus Beseng, Senin, (29/12/2025).

Waktu pembangunan Hone Lango Beruin pun tidak ditentukan secara acak. Masyarakat adat biasanya menunggu fase bulan tertentu yang disesuaikan dengan strata sosial suku. Seluruh bahan bangunan diambil dari alam sekitar, seperti bambu untuk struktur utama dan daun kelapa tua sebagai atap, mencerminkan kearifan lokal serta kedekatan masyarakat dengan alam.

Setiap bagian rumah adat sarat dengan makna simbolik. Salah satunya adalah tiang kanan rumah, yang hanya boleh dipasang oleh pihak awiinai dan menjadi tempat duduk khusus bagi beruin saat musyawarah adat. Jumlah hiasan di puncak atap pun bukan sekadar ornamen, melainkan penanda strata sosial suku yang bersangkutan.

Prosesi pembangunan Hone Lango Beruin selalu dilengkapi ritual adat, termasuk penyembelihan ayam merah dan pembagian makanan khas seperti pisang muko manis. Makanan ini dipercaya membawa keberkahan dan keselamatan bagi seluruh warga kampung yang terlibat.

Menurut Linus Beseng, keberadaan rumah adat ini memiliki konsekuensi adat yang kuat. Jika Hone Lango Beruin tidak dibangun atau dirawat dengan baik, sanksi adat diyakini akan muncul dalam bentuk kesialan, seperti gagal panen, penyakit, hingga kematian ternak.

“Hone Lango Beruin ini bukan hanya milik suku, tapi payung leluhur bagi semua keturunan yang hidup di kampung ini,” ucapnya tegas.

Hingga kini, masyarakat Tolok Ile Alen masih setia mempertahankan tradisi Hone Lango Beruin. Bagi mereka, rumah adat ini adalah wujud penghormatan kepada leluhur sekaligus benteng terakhir pelestarian budaya di tengah arus perubahan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....