Tambal Ban Pinggir Jalan, Denyut Ekonomi Rakyat Kota Ende
- 28 Des 2025 13:23 WIB
- Ende
KBRN, Ende: Di tengah laju digitalisasi ekonomi dan terbatasnya lapangan kerja formal, usaha tambal ban masih bertahan sebagai sandaran hidup masyarakat kecil di Kota Ende. Dari lapak sederhana di pinggir jalan, jasa ini menjadi solusi cepat bagi pengendara yang mengalami kendala, sekaligus sumber penghidupan nyata bagi pekerja sektor informal.
Setiap pagi, sejak matahari belum sepenuhnya naik, Andy (25) sudah bersiap di lapak tambal ban milik Ola Ngari di Jalan Durian, Ende. Dengan peralatan sederhana—sebuah kompresor, alat tambal manual, lem, dan beberapa ban dalam cadangan—ia menunggu pengendara yang membutuhkan bantuannya.
“Biasanya mulai ramai pagi sampai sore,” kata Andy kepada RRI, Senin (22/12/2025).
Lapak kecil itu telah menjadi tempat Andy bertahan selama tiga tahun terakhir. Meski usaha serupa semakin banyak dan persaingan kian terasa, ia tetap konsisten membuka jasa dari pukul 06.00 hingga 18.00 WITA, melayani kendaraan roda dua yang melintas di jalur padat aktivitas.
Dalam sehari, Andy rata-rata melayani lima hingga sepuluh pelanggan. Tarif tambal ban dipatok mulai Rp2.000 hingga Rp20.000, bergantung pada jenis dan tingkat kerusakan ban. Dari pekerjaan yang tampak sederhana itu, penghasilannya bisa mencapai Rp.200.000 per hari atau sekitar Rp5 hingga Rp6 juta per bulan.
Pendapatan tersebut tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, tetapi juga untuk operasional usaha dan perawatan peralatan. “Kalau ada sisa, saya tabung sedikit,” ujarnya singkat.
Usaha tambal ban seperti yang dijalankan Andy menjadi bagian penting dari denyut ekonomi informal perkotaan. Di tengah keterbatasan bengkel resmi dan kebutuhan mobilitas masyarakat yang tinggi, keberadaan tukang tambal ban sering kali menjadi pertolongan pertama saat kendaraan mengalami kerusakan di jalan.
Namun, pekerjaan ini juga tidak lepas dari tantangan. Musim hujan kerap menurunkan jumlah pelanggan, sementara persaingan usaha di jalur yang sama semakin ketat. Meski begitu, Andy memilih bertahan. Baginya, pekerjaan ini adalah jalan halal untuk menghidupi diri sendiri sekaligus membantu orang tua.
“Yang penting bisa makan dan jalan terus,” katanya sambil tersenyum.
Di balik kesederhanaannya, usaha tambal ban menyimpan potret ketahanan ekonomi rakyat. Ia mungkin luput dari sorotan besar, tetapi perannya nyata—menjaga roda kendaraan tetap berputar, dan pada saat yang sama, menjaga roda kehidupan masyarakat kecil agar terus berjalan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....