Sekolah Multikultural: Menanam Toleransi di SMA Islam Muthmainnah

  • 29 Okt 2025 10:23 WIB
  •  Ende

KBRN, Ende: SMA kini bukan lagi sekadar tempat menimbun ilmu akademik. Ia telah bertransformasi menjadi laboratorium sosial, tempat di mana karakter ditempa dan nilai-nilai kebersamaan dipupuk. Di Ende, Nusa Tenggara Timur, SMA Islam Muthmainnah menjadi contoh nyata bagaimana tembok perbedaan diruntuhkan demi menciptakan ruang pendidikan yang damai dan inklusif. Kepala SMA Islam Muthmainnah, Lukman Pua Rangga, S. Pd., dengan tegas mengatakan bahwa toleransi di sekolah adalah cerminan kemampuan untuk menghargai perbedaan tanpa harus kehilangan jati diri. "Toleransi itu sederhana, yakni saling menghargai walau dalam lingkungan sekolah terdapat perbedaan agama, bahasa, maupun budaya,” ujar Lukman dalam Program SPADA, Senin (13/10/2025).

Meskipun menyandang label "Islam," sekolah ini membuktikan bahwa inklusivitas adalah ruh utamanya. Lukman menjelaskan, peserta didik di SMA Islam Muthmainnah berasal dari berbagai latar belakang agama.

Komitmen terhadap keberagaman ini tidak berhenti pada penerimaan siswa, tetapi juga meluas hingga ke jajaran pengajar.

"Walaupun nama sekolahnya berlebel Islam, tetapi yang bersekolah di sana siswa yang berlatar agama berbeda, dan di SMA Islam Muthmainnah juga menghadirkan guru agama selain agama Islam," ungkap Lukman, menyoroti praktik nyata yang dilakukan sekolahnya.

Lukman menyampaikan jika ada beberapa kegiatan yang dilakukan oleh sekolah agar nilai toleransi tetap terjaga dianataranya:

Kegiatan Lintas Agama: Menggelar acara yang melibatkan siswa dari berbagai keyakinan, menumbuhkan pemahaman dan empati secara langsung.

Kerja Bakti Bersama: Aktivitas sosial yang menyatukan seluruh warga sekolah tanpa memandang latar belakang, memperkuat rasa kepemilikan.

Program Mentoring Antar-siswa: Siswa belajar langsung dari teman sebaya untuk memahami bahwa kebersamaan berakar pada empati dan keterbukaan.

Melalui program-program ini, para siswa tidak hanya diajari teori toleransi, melainkan menjalaninya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Tentu saja, upaya menjaga harmoni di tengah keberagaman tidak lepas dari tantangan.

Lukman mengakui bahwa sikap ego sektoral dan stereotip sosial sering kali menjadi penghambat utama. Untuk mengurai potensi konflik ini, pihak sekolah memilih jalan dialog terbuka.

"Sebagai kepala sekolah, saya berupaya membangun budaya dialog terbuka antara siswa, guru, dan orang tua," katanya. Ia percaya bahwa komunikasi yang sehat adalah kunci untuk mencegah kesalahpahaman dan memperkuat solidaritas di lingkungan sekolah.

Selain itu, sekolah juga memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan pesan positif dan secara tegas menolak ujaran kebencian. Lukman melihat media sosial sebagai sarana edukatif yang efektif bila digunakan secara bijak oleh pelajar dan guru.

Peran guru dalam proses ini dinilai tak kalah penting. Guru didorong untuk menjadi teladan yang mencontohkan sikap menghargai perbedaan melalui tindakan sederhana setiap hari, baik di dalam maupun di luar kelas.

Mengakhiri pesannya, Lukman Pua Rangga menyerukan kepada seluruh pelajar di Indonesia untuk terus menjaga semangat toleransi dan persatuan di sekolah. Dia menegaskan bahwa sekolah adalah tempat terbaik untuk belajar memahami indahnya Indonesia yang beragama.

“Jadikan sekolah sebagai tempat belajar untuk saling menghargai, menghormati, dan memahami adanya perbedaan yang dimiliki dan jangan saling membandingkan," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....