Pemuda Lembata Jadi Penjaga Benih dan Budaya
- 24 Okt 2025 12:15 WIB
- Ende
KBRN, Ende: Semangat pelestarian pangan lokal terus tumbuh di kalangan anak muda, salah satunya melalui kisah inspiratif Hendrikus Builok, anggota komunitas Gebetan (Gerakan Pemuda Penjaga Benih dan Identitas Pangan Lokal) asal Desa Tapo Bali, Kabupaten Lembata.
Henrikus, yang akrab disapa Andika, pernah merantau ke Malaysia pada 2016 untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit. Namun, pengalaman hidup di negeri orang justru menumbuhkan kesadaran baru dalam dirinya tentang pentingnya kembali ke tanah kelahiran dan menjaga sumber pangan lokal.
“Setiap kali mencabut rumput di kebun sawit, saya selalu bertanya dalam hati, apakah rumput di sini berbeda dengan di kampung halaman? Dari sanalah saya sadar bahwa saya harus pulang dan bekerja untuk tanah sendiri,” ujarnya kepada RRI, Selasa, (21/10/2025).
Sekembalinya ke Lembata pada 2017, Andika mulai aktif bertani di desanya yang dikenal berbatu dan tandus. Bersama komunitas Gebetan, ia memilih sorgum sebagai tanaman utama karena tahan kekeringan dan sesuai dengan kondisi alam Lembata.
Menurutnya, bertani bukan sekadar pekerjaan semata. Lebih dari itu, bertani adalah panggilan untuk menjaga identitas dan warisan leluhur.
“Menjadi petani itu istimewa. Kita belajar bekerja bersama alam, bukan melawannya,” ucapnya tegas.
Melalui praktik pertanian alami tanpa bahan kimia, Andika ingin menunjukkan bahwa menjaga pangan lokal sama artinya dengan melestarikan budaya dan keberlanjutan lingkungan. Ia juga berharap semakin banyak anak muda yang bangga menjadi petani dan melihat pertanian sebagai profesi yang bermartabat.
“Kalau kita tanam dengan niat baik dan cara yang baik, alam akan memberi hasil yang baik pula,” katanya penuh keyakinan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....