Teman Tuli Lembata Tampil Memukau di Festival Lamaholot
- 13 Okt 2025 12:28 WIB
- Ende
KBRN, Lembata: Suasana Festival Lamaholot 2025 di Kabupaten Lembata terasa berbeda tahun ini. Di tengah gegap gempita panggung budaya, sekelompok anak muda dengan gerakan tangan yang anggun berhasil mencuri perhatian penonton. Mereka adalah komunitas teman tuli Lembata, yang untuk pertama kalinya tampil di panggung besar membawakan puisi dan pantomim dalam bahasa isyarat.
Anna Renya Wahon, leader Komunitas Pondok Perubahan, adalah sosok di balik inisiatif luar biasa ini. Ia mengisahkan, ketertarikan mereka untuk belajar bahasa isyarat berawal dari kegiatan jambore di Alor, di mana para peserta diajak memahami materi melalui bahasa isyarat. Dari pengalaman itu, tumbuh semangat untuk membangun ruang belajar serupa di Lembata.
“Sudah empat tahun teman-teman tuli hadir di Lembata, tapi baru tiga bulan ini kami rutin belajar bahasa isyarat setiap minggu. Kami juga sering melakukan sesi Zoom dengan komunitas tuli di daerah lain,” ujar Anna dengan penuh semangat, Jumad, (10/10/2025).
Menurutnya, belajar bahasa isyarat bukan sekadar menambah keterampilan baru. Namun, ini juga menjadi cara untuk menyamakan langkah dan membuka hati bagi sesama.
“Ketika kita mau belajar bahasa mereka, artinya kita mau masuk ke dunia mereka dan menjadikan diri kita setara,” ucapnya.
Kini, sekitar 40 teman tuli di Lembata difasilitasi untuk terus mengasah kemampuan berkomunikasi dan berekspresi. Bagi Anna, kemunculan mereka di Festival Lamaholot bukan hanya penampilan seni, tetapi juga pesan kuat tentang kesetaraan dan penerimaan.
“Semakin hari, ruang publik di Lembata makin terbuka menerima teman-teman tuli. Harapan saya, makin banyak orang yang mau menyapa, berinteraksi, dan menerima mereka tanpa perbedaan,” ujarnya haru.
Sementara itu, Dedy, salah seorang teman tuli yang ikut tampil di festival, mengungkapkan rasa bahagianya melalui penerjemah. Ia menandakan dengan senyum lebar dan gerakan tangan penuh semangat.
“Saya bangga dan senang bisa tampil di acara besar seperti ini,” ujarnya.
Kisah komunitas tuli Lembata menjadi pengingat bahwa inklusivitas bukan hanya tentang menerima, tetapi juga memberi ruang bagi semua suara, bahkan yang tidak terdengar sekalipun, untuk bersinar di panggung yang sama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....