Dapur Alam Ina Kar, Pesona Panas Bumi Atakore
- 13 Okt 2025 10:46 WIB
- Ende
KBRN, Lembata: Asap tipis mengepul dari celah bebatuan di Desa Atakore, Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata. Di sanalah Dapur Alam Ina Kar, sebuah keajaiban panas bumi alami, menjadi saksi hidup tradisi syukur panen dan permohonan berkat yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Lamaholot.
Dalam rangkaian Festival Lamaholot 2025, situs budaya ini kembali mencuri perhatian publik. Keunikannya sekaligus menjadi daya tarik utama sebagai potensi wisata unggulan Lembata.
Dapur Alam Ina Kar bukan dapur biasa. Lubang alami di tanah ini dimanfaatkan masyarakat untuk memasak hasil bumi dan ternak dengan cara tradisional.
Bahan makanan dibungkus daun, lalu ditutup jerami dan batu panas selama dua hingga tiga jam. Hasilnya adalah masakan dengan cita rasa khas, tekstur renyah, dan aroma yang tak tertandingi, sebuah warisan kuliner yang menggugah selera.
Wakil Bupati Lembata, Muhamad Nasir, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menegaskan bahwa kekayaan adat dan budaya seperti Dapur Alam Ina Kar merupakan aset besar yang harus dijaga dan dikembangkan.
“Hari ini ada 12 wisatawan asing dari Belanda, Polandia, dan Jerman yang datang menikmati keunikan dapur alam di Lembata. Ini bukti bahwa budaya kita memiliki daya tarik global,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengembangan potensi wisata seperti ini sangat penting dilakukan. Hal tersebut harus menjadi prioritas bersama antara pemerintah dan masyarakat.
“Kekayaan budaya seperti Dapur Alam Ina Kar perlu dikelola secara berkelanjutan agar memberi manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat. Fokus kita ke depan adalah mempromosikan desa wisata Lembata ke tingkat nasional dan internasional,” ucapnya tegas.
Sementara itu, Plt Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), Dwi Marhen Yono, menyatakan dukungan penuh terhadap pengembangan atraksi panas bumi ini. Ia menilai Dapur Alam Ina Kar sebagai keunikan otentik dengan nilai jual tinggi dalam pariwisata budaya.
“Dapur Alam Ina Kar adalah potensi luar biasa, namun fasilitas dasarnya masih terbatas. Kita perlu menyiapkan amenitas seperti toilet, akses jalan, area kuliner, peta wisata, dan pemandu lokal agar wisatawan lebih nyaman,” ujar Marhen.
Ia menekankan bahwa pengembangan pariwisata harus dilakukan secara bijak. Keseimbangan antara kemajuan pariwisata dan pelestarian budaya perlu terus dijaga.
“Keindahan Desa Wisata Atakore, dengan adat dan budayanya yang meneduhkan hati, harus terus dirawat. Esensi pariwisata adalah kebahagiaan, ketika wisatawan datang dan merasa bahagia, maka masyarakat pun akan ikut berbahagia,” katanya.
Festival Lamaholot 2025 menjadi momentum penting untuk memperkenalkan Atakore sebagai desa wisata budaya yang unik dan autentik. Di tengah gejolak modernitas, Dapur Alam Ina Kar berdiri sebagai simbol harmoni antara alam, tradisi, dan kehidupan, sebuah warisan yang tak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga akan tanah Lembata.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....