Mama Nina, Kasih yang Tak Pernah Lelah Menjemput

  • 18 Agt 2025 17:52 WIB
  •  Ende

Di sebuah sudut tenang di Kabupaten Ende, Flores, berdiri sebuah rumah sederhana yang menyimpan kisah cinta paling tulus kepada sesama manusia. Di tempat itu, sejak tahun 1985, seorang perempuan bernama Katarina Deno, yang lebih dikenal dengan nama Mama Nina memilih jalan hidup yang tak biasa: merawat dan mendampingi mereka yang terabaikan, mereka yang sering kali dilupakan oleh masyarakat.

Segalanya dimulai dari langkah kecil. Mama Nina, dengan hati yang tergerak, memulai pelayanannya dengan membagikan makanan kepada orang-orang yang hidup di jalanan. Bukan karena ia punya kelebihan, tapi karena ia merasa tidak bisa tinggal diam saat melihat sesama manusia hidup tanpa perlindungan, tanpa perhatian, dan tanpa cinta.

Setiap hari Jumat, ia turun ke jalan membawa makanan. Ia menyapa mereka yang duduk di emperan, kolong jembatan, atau tepi jalan yang panas dan berdebu.

“Hati saya sangat tersentuh. Mereka makan kalau ada yang kasih. Saya pikir, siapa yang akan tolong mereka kalau bukan kita?” katanya lembut.

Seiring waktu, kepedulian Mama Nina tak lagi hanya soal makanan. Ia mulai membawa mereka pulang. Merawat, memandikan, memberi pakaian bersih, mengajak berdoa, dan perlahan-lahan mengembalikan rasa aman yang mungkin sudah lama hilang dari hidup mereka. Tahun demi tahun, ia terus berjalan. Hingga akhirnya, pada tahun 2017, Dinas Sosial Kabupaten Ende melihat upaya luar biasa ini dan memintanya membentuk wadah resmi.

Maka berdirilah Lembaga Pelayanan Kasih Samaria, yang kini menjadi tempat tinggal sekitar 30 orang yang dulu hidup di jalanan dan kini mendapatkan kasih yang selama ini tak mereka rasakan. Bangunan tempat mereka tinggal adalah bekas gudang yang dipinjamkan oleh pemerintah daerah dan kemudian direnovasi agar layak huni.

Di rumah singgah itu, setiap hari Mama Nina dan timnya dengan sabar melayani para penghuni memberi makan tiga kali sehari, mendampingi saat mereka cemas atau gelisah, membujuk agar mau minum obat, bahkan sekadar duduk menemani mereka yang sedang diam.

“Yang tinggal di rumah ini adalah orang-orang yang kami jemput dari jalan. Mereka benar-benar tidak punya siapa-siapa,” ujarnya.

Merawat mereka tentu bukan hal mudah. Ada hari-hari di mana yang ia temui adalah tubuh yang telanjang di pinggir jalan. Ada juga yang datang marah-marah, menolak disentuh, bahkan takut melihat orang lain. Mama Nina tahu bahwa yang mereka alami bukan sekadar sakit, tapi luka batin yang dalam hasil dari penolakan, kekerasan, pengabaian, dan trauma panjang yang tak pernah ditangani.

Namun ia tidak menyerah. Di balik semua tantangan itu, ia menemukan hal-hal kecil yang membahagiakan: ketika mereka mulai tertawa, mulai ikut berdoa, mulai memanggil namanya, dan mulai percaya bahwa mereka masih layak dicintai.

Kini, meski pelayanan terus berjalan, Mama Nina memendam satu harapan besar: memiliki tanah dan bangunan sendiri untuk lembaga ini. Tempat yang lebih layak, lebih luas, dan memungkinkan pelayanan yang lebih terstruktur di mana penghuni baru yang masih membutuhkan pendekatan khusus bisa dipisahkan ruangannya dari mereka yang sudah tenang dan stabil.

“Kalau ada tempat sendiri, lebih baik. Sekarang masih campur, kadang itu menyulitkan,” ujarnya pelan, tapi penuh harap.

Walau fasilitas sederhana dan dana terbatas, Mama Nina percaya bahwa tangan kasih Tuhan akan terus bekerja. Ia tidak bekerja dengan uang yang banyak, tapi dengan hati yang penuh keyakinan bahwa setiap manusia berhak disayangi. Karena itu, ia juga mengajak masyarakat untuk membuka mata dan hati.

“Jangan abaikan mereka. Mereka begini bukan maunya sendiri. Banyak dari mereka pernah disakiti, dijatuhkan. Jangan tolak mereka lagi,” ucapnya dengan suara yang tegas tapi penuh kelembutan.

Dalam diam dan kesederhanaan, Mama Nina menunjukkan bahwa cinta tidak butuh panggung besar. Bahwa merawat satu jiwa yang terluka bisa jadi bentuk cinta tanah air yang paling nyata. Dan bahwa kasih sekali diberikan dengan tulus mampu menjangkau bahkan mereka yang paling terlupakan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....