Menjaga Pohon Sukun, Merawat Api Pancasila

  • 16 Agt 2025 14:18 WIB
  •  Ende

KBRN, Ende: Di tengah kota Ende yang tenang, berdiri sebuah taman kecil namun sarat makna. Namanya Taman Renungan Bung Karno, tempat bersejarah yang menjadi saksi perenungan seorang pemuda bernama Soekarno, jauh sebelum ia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Taman ini bukan taman biasa. Di sinilah, selama masa pengasingannya oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1934 hingga 1938, Bung Karno merenung dalam kesendirian. Ia duduk di bawah sebuah pohon sukun, menatap laut Flores dan gunung-gunung di kejauhan. Dari tempat inilah, menurut sejarah, ia mengilhami lahirnya lima sila dasar negara: Pancasila.

Kini, taman ini menjadi ruang ziarah nasionalisme. Suasana yang hening, pepohonan rindang, dan bunga-bunga yang tumbuh di sepanjang jalan setapak menjadikan taman ini tak hanya tempat wisata, tapi juga ruang refleksi kebangsaan.

Di tengah keteduhan taman itu, terdapat patung Bung Karno, serta sebuah kursi semen yang menandai tempat beliau biasa duduk. Namun yang menjaganya tetap hidup bukan hanya benda-benda itu, melainkan sosok sederhana yang merawatnya setiap hari, Kalianus Nusa.

Kalianus adalah pria kelahiran Ende, 2 Mei 1978. Sejak tahun 2013, ia menjadi penjaga Taman Renungan Bung Karno sebagai pegawai honorer di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende. Baginya, menjaga taman ini bukan sekadar tugas harian.

“Kami tidak menjaga taman, kami menjaga warisan pemikiran,” ujarnya.

Setiap pagi, ia datang menyapu dedaunan, menyiram bunga, dan merapikan taman. Tapi yang paling istimewa, ia menyambut para pengunjung dari berbagai daerah dari pelajar lokal hingga wisatawan luar negeri dan menceritakan kembali kisah Bung Karno dengan penuh semangat.

Menurut Kalianus, Pancasila tidak lahir di ruang diskusi atau ruang sidang. Ia lahir dalam keheningan dan penderitaan.

“Bung Karno merasakannya di bawah pohon ini,” ujarnya.

Bagi masyarakat Ende, kehadiran Kalianus di taman itu ibarat penjaga ruh sejarah. Ia memastikan agar nilai-nilai yang dulu dilahirkan dari renungan di tempat ini tidak memudar oleh waktu.

Taman Renungan Bung Karno hari ini bukan hanya menyimpan jejak masa lalu, tapi juga menjadi tempat bagi generasi muda untuk belajar kembali tentang arti kemerdekaan bahwa kebebasan bukanlah hadiah, melainkan hasil dari pemikiran dan perjuangan panjang.

Dari Ende, dari bawah pohon sukun, Indonesia kembali diajak merenungi makna persatuan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....