Marselus Selu, Maestro Musik Bambu Asal Wogo
- 09 Agt 2025 12:13 WIB
- Ende
KBRN, Ngada: Suara musik bambu memecah keheningan siang di Kampung Lama Wogo. Alunan nada yang khas itu datang dari seorang pria paruh baya, Marselus Selu (67), yang duduk tenang di depan tumpukan batu megalitikum, meniup dua seruling bambu kembar: Foy Doa dan Foy Pai.
Marselus bukan sekadar pemain musik tradisional. Ia adalah maestro, pemain sekaligus perajin alat musik bambu khas Ngada yang telah mendedikasikan lebih dari lima dekade hidupnya untuk menjaga warisan bunyi yang hampir punah ini. Saat rombongan Festival Wolobobo 2025 tiba dalam kegiatan tracking menuju Pasar Bambu Napu Bheto, Marselus tak segan memperagakan kepiawaiannya memainkan alat musik tersebut.
“Musik seruling bambu ini dulu mengiringi pasangan pengantin menuju gereja. Ada suka dan duka yang bisa disampaikan lewat nada,” ujar Marselus dengan mata berbinar.
Alat musik Foy Doa memiliki suara nyaring seperti suara pria, sedangkan Foy Pai menghasilkan nada rendah dan lembut seperti wanita. Dua seruling ini biasa dimainkan bersama, menciptakan harmoni yang menyentuh, terutama jika dimainkan dalam formasi lengkap 25 orang, lengkap dengan bariton, bombardon, dan tabuhan gendang.
Bakat Marselus mulai terlihat sejak usia 15 tahun. Ia belajar secara otodidak karna didorong rasa penasaran yang besar, bagaimana bambu bisa menghasilkan suara yang begitu merdu?. Bambu pilihan itu dipotong dari hutan di puncak bukit yang berjarak 20 kilometer dari kampung.
"Proses ini menjadi bagian dari ritual membuat alat musik tradisional yang hanya dipahami oleh mereka yang hidup dekat dengan alam, dan biasanya waktu dan tempat terbaik untuk memotong bambu adalah di musim kemarau dan di bulan gelap.
“Kalau musim kemarau dan bulan gelap, kadar air bambu rendah, tidak mudah dimakan kutu, dan suaranya jadi lebih nyaring,” ujarnya menjelaskan.
Kini, Marselus bukan hanya dikenal sebagai pemain, tetapi juga pembuat alat musik bambu yang andal. Ia bahkan mendirikan kelompok musik Satu Tekad di Kampung Adat Wogo. Kelompok ini sering tampil di berbagai acara di Ngada, NTT, bahkan hingga ke Bali.
Puncak kebanggaannya pada Tahun 2022, ketika Presiden Joko Widodo mengunjungi Kampung Adat Wogo. Dirinya bersama kelompok musik Tekad tampil di hadapan presiden Jokowi.
“Waktu itu kami memperdengarkan musik bambu di depan Pak Jokowi dan rombongan. Rasanya luar biasa,” katanya penuh haru.
Marselus hingga kini tetap setia mengajar anak-anak sekolah di Kecamatan Golewa dan Desa Ratogesa. Ia menularkan keterampilannya agar musik bambu tetap lestari dan tidak hilang ditelan zaman.
“Saya harap generasi muda tidak meninggalkan musik bambu. Ini suara leluhur kita,” ucapnya Marselus, sambil kembali meniup Foy Doa, mengisi udara Wogo dengan melodi yang menghubungkan masa lalu, sekarang, dan masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....