Pohon Sukun, Pancasila, dan Bung Karno di Ende

  • 29 Jul 2025 16:03 WIB
  •  Ende

KBRN, Ende: Di sebuah sudut tenang di Kota Ende, Nusa Tenggara Timur, berdiri kokoh sebuah pohon sukun tua yang rindang. Bukan pohon biasa. Di bawah naungannya, Ir. Soekarno yang kelak menjadi Presiden pertama Republik Indonesia merenung, menulis, dan menggagas dasar negara: Pancasila.

Tahun 1934, Soekarno diasingkan ke Ende oleh pemerintah kolonial Belanda. Bagi sebagian orang, pengasingan adalah akhir. Namun bagi Bung Karno, Ende justru menjadi awal dari pematangan ideologisnya. Selama empat tahun hidup di kota ini, ia tak hanya berdiam.

Ia membangun relasi dengan warga lokal, menggelar pertunjukan teater, membaca buku-buku filsafat, dan merenung mendalam tentang Indonesia yang merdeka. Di Taman Renungan Pancasila, pohon sukun itu masih berdiri.

Di sanalah, menurut catatan sejarah dan pengakuan Bung Karno sendiri, benih-benih Pancasila mulai tumbuh. Lima sila yang kemudian menjadi dasar negara Indonesia dirumuskan dalam kesunyian dan refleksi mendalam di bawah pohon itu.

“Di bawah pohon sukun itulah saya banyak merenung,” tulis Bung Karno dalam memoarnya.

Renungannya mencakup gagasan tentang persatuan bangsa yang majemuk, keadilan sosial, dan ketuhanan yang inklusif yang kemudian menjelma menjadi sila-sila Pancasila. Dalam pengasingan, ia juga banyak menulis untuk menyalurkan gagasan dan perasaan.

Lewat tulisan dan drama, Bung Karno berbicara pada zamannya dan generasi setelahnya. Rumah pengasingannya kini telah menjadi museum.

Di sana tersimpan buku-buku yang pernah dibaca Bung Karno serta meja tulis yang digunakannya. Juga terdapat naskah-naskah drama yang ia hasilkan selama masa pengasingan di Ende.

Beberapa karyanya antara lain Dokter Setan, Tahun 1945, Nggera Ende, Amuk, dan Rendo, semuanya sarat pesan kebangsaan dan kritik sosial. Selain itu, Bung Karno juga menulis Aero Dijnamiet, Anak Haram Djadah, dan Rahasia Kelimoetoe, menunjukkan bahwa kreativitas dan daya pikirnya tetap menyala meski dalam tekanan.

Bagi masyarakat Ende, Bung Karno bukan sekadar tokoh nasional. Ia adalah bagian dari sejarah lokal.

Banyak warga mewarisi kisah interaksi Bung Karno dengan rakyat kecil: mengajar anak-anak, berdiskusi dengan pastor dan tokoh adat, hingga menanam kelapa di halaman rumahnya. Kisah-kisah ini terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.

Peringatan Hari Lahir Pancasila yang jatuh setiap 1 Juni rutin digelar di tempat ini. Ribuan orang datang mengenang detik-detik lahirnya Pancasila, bukan di aula istana atau gedung parlemen, tapi di bawah pohon sukun di sebuah kota kecil di Flores.

Suasana khidmat dan kesederhanaan acara menjadi pengingat bahwa ide besar bisa lahir dari tempat yang jauh dari gemerlap kekuasaan. Bung Karno pernah berkata, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah.”

Di Ende, sejarah itu tidak hanya diingat, tapi dirawat. Bukan untuk dipuja, melainkan untuk dijadikan pijakan melangkah ke masa depan, agar bangsa ini tidak kehilangan jati dirinya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....