Ila One Nua, Cahaya Literasi dari Dusun Detupau

  • 08 Jul 2025 20:18 WIB
  •  Ende

KBRN, Ende: Di sebuah dusun kecil bernama Detupau, Desa Likanaka, Kabupaten Ende, secercah cahaya ilmu tumbuh pelan namun pasti. Cahaya itu bernama Taman Baca Ila One Nua, yang dalam bahasa lokal berarti “lampu yang menyala di tengah desa”.

Didirikan oleh seorang pemuda bernama Vichar Laka, taman baca ini bukan hanya ruang belajar, melainkan juga oase harapan bagi anak-anak di pelosok yang haus akan ilmu. Dalam siaran “Sore Ceria” Pro 2 RRI Ende, Selasa (8/7/2025), Vichar menceritakan awal mula dan perjuangannya membangun taman baca tersebut.

Di tengah keterbatasan akses dan infrastruktur, kehadiran taman baca ini telah membuka pintu dunia baru bagi anak-anak. Buku, yang sebelumnya asing dan langka, kini menjadi sahabat mereka sehari-hari. Dari membaca, menulis, menggambar, hingga belajar percaya diri, semuanya dilakukan dalam suasana yang akrab dan menyenangkan.

Namun, perjuangan itu bukan tanpa tantangan. Di era digital saat ini, Vichar menghadapi kenyataan bahwa perhatian anak-anak mulai tergeser oleh gawai dan layar. “Kami berusaha mengembalikan kebiasaan membaca sejak usia dini,” ujarnya.

Masalah listrik pun belum sepenuhnya teratasi. Hingga kini, taman baca masih bergantung pada generator. Meski demikian, bantuan datang dari jejaring “Buku Bagi NTT” yang menyumbangkan 85 lampu tenaga surya untuk dua dusun di sekitar Detupau, menjadi penyemangat baru dalam gelapnya keterbatasan.

Lebih dari sekadar membaca, Taman Baca Ila One Nua juga menjadi tempat pembentukan karakter. Anak-anak diajarkan nilai-nilai sosial seperti saling menghormati, mendengarkan saat sesi dongeng, dan berperilaku sopan. Mereka juga semakin terbuka dan percaya diri menyambut pengunjung dari luar negeri, seperti dari Jerman dan Australia.

"Kami ingin menanamkan rasa percaya diri dan kebersamaan sejak dini,” kata Vichar.

Akses terhadap buku masih menjadi kendala, terutama saat musim hujan tiba. Namun Vichar yakin bahwa literasi harus dimulai dari rumah dan komunitas. Ia mengajak generasi muda untuk membentuk kelompok kecil literasi di lingkungannya masing-masing.

“Literasi bukan sekadar baca-tulis, tapi juga soal membangun hubungan dan nilai,” upanya tegas.

Pendanaan taman baca dilakukan dengan berbagai cara kreatif. Dari menjual kopi kemasan, mengadakan kegiatan sosial seperti "makan bubur kacang gratis", hingga memanfaatkan media sosial untuk promosi dan menjalin relasi. Semua dilakukan dengan prinsip ketulusan dan konsistensi.

“Harus dengan hati yang ikhlas,” katanya dengan mantap.

Kini, Ila One Nua telah menjadi simbol harapan dan semangat. Sebuah taman kecil yang menyalakan cahaya besar di tengah keterbatasan. Vichar berharap agar taman baca seperti ini bisa tumbuh di setiap desa terpencil di Nusa Tenggara Timur dan Indonesia.

Dibalik halaman-halaman buku yang mereka baca, tersimpan masa depan yang lebih cerah bagi generasi penerus bangsa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....