Lakademu, Laskar Sunyi Pengusung Tuan Ana
- 17 Apr 2025 08:51 WIB
- Ende
KBRN, Flotim: Dalam senyap malam Jumat Agung, saat gema ratapan menggema di antara ribuan peziarah, empat sosok berjubah putih dan bertopi merah kerucut berjalan perlahan memikul peti Tuan Ana, Yesus Kristus. Mereka adalah Lakademu, pilar sakral dalam prosesi Semana Santa yang telah berakar ratusan tahun di tanah Larantuka, Nusa Tenggara Timur.
Semana Santa, tradisi keagamaan umat Katolik yang diwariskan dari zaman kolonial Portugis, bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah wujud nyata devosi umat kepada penderitaan Kristus, di mana Lakademu hadir sebagai simbol pengorbanan tanpa suara. Dalam tugasnya, Lakademu tak sekadar membawa beban fisik, melainkan juga beban batin umat yang berharap dan bersyukur.
Menjadi Lakademu bukan perkara mudah. Setahun sebelum prosesi, mereka yang terpanggil harus mendaftarkan diri secara diam-diam kepada Procurador atau Presidenti Confreria Reinha Rosari Larantuka. Identitas mereka dirahasiakan, hanya pengurus Konfreria yang tahu siapa yang terpilih.
Setiap tahun, hanya empat orang terpilih. Syarat utamanya bukan hanya niat dan iman, tapi juga fisik yang setara tinggi badan harus sejajar agar peti Tuan Ana seimbang dipikul. Para Lakademu wajib menjaga dirinya dari keluh kesah, menahan haus dan lapar, serta melaksanakan novena pribadi selama masa persiapan.
Puncak peran Lakademu terjadi pada Jumat malam, ketika ribuan umat mengiringi prosesi arak-arakan patung Tuan Ma (Bunda Maria) dan Tuan Ana melewati delapan armida, perhentian yang menandai titik refleksi Jalan Salib Kristus. Lakademu memikul peti Tuan Ana dalam diam, tanpa sorotan, tanpa nama. Seperti Simon dari Kirene, mereka adalah penolong yang setia dalam penderitaan Sang Penebus.
Rute sepanjang kurang lebih dua kilometer itu bukan sekadar perjalanan jasmani. Di setiap langkahnya, lantunan nyanyian Latin tua dan tangisan lirih para peziarah mengalir mengiringi. Lakademu tidak bicara. Tapi diam mereka adalah suara paling lantang tentang iman, harap, dan cinta yang tak bersyarat.
Tak sedikit yang bersaksi, setelah menjadi Lakademu, harapan mereka terkabul. Ada yang sembuh dari sakit, ada yang dipertemukan dengan jalan hidup baru. Tapi mereka tak pernah menyombongkan diri. Mereka menyebutnya "ujud" niat tulus yang hanya diketahui antara dirinya dan Sang Khalik. Jika suatu tahun tak ada yang melamar, Konfreria telah menyiapkan aturan: anggota termuda harus siap memanggul Tuan Ana. Ini bukan kewajiban, tapi kehormatan.
Di balik kesunyian tugasnya, Lakademu adalah pewarta tanpa kata. Mereka mengenakan pakaian serupa prajurit Romawi kuno, melambangkan peralihan dari kekuasaan duniawi menuju pelayanan ilahi. Di pundak merekalah, kisah sengsara Kristus hidup kembali setiap tahun.
Semana Santa bukan hanya ritual, melainkan pertemuan antara tradisi, iman, dan pengharapan. Di tengah dunia yang riuh, Lakademu adalah suara dari kesunyian: bahwa cinta sejati tak butuh pengakuan—cukup dijalankan dalam diam, dengan setia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....