Potensi Herbal Lokal Borong Dikembangkan Jadi Produk Ekonomi

  • 07 Okt 2026 11:04 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Tanaman herbal lokal di Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi melalui usaha jamu herbal Liwut Sari.
  • Kelompok UMKM Maju Bersama yang dipimpin Rosalia Nganus terdiri dari 10 perempuan dan melibatkan masyarakat dalam penanaman, produksi, dan pemasaran bahan herbal.
  • Kelompok UMKM ini juga menjalankan koperasi simpan pinjam untuk mengatasi keterbatasan modal usaha dalam mengembangkan bisnis herbal lokal.

RRI.CO.ID, Ende - Tanaman herbal lokal di Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, mulai dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi melalui usaha jamu herbal Liwut Sari. Pemilik Liwut Sari sekaligus Ketua Kelompok UMKM Maju Bersama, Rosalia Nganus, mengatakan pemanfaatan bahan baku lokal menjadi peluang untuk memperkuat ekonomi keluarga dan masyarakat.

Rosalia saat menjadi narasumber Program UMKM Bicara RRI Ende, Senin, 5 Oktober 2026 2026, menjelaskan usaha yang berawal dari inisiatif keluarga tersebut kini melibatkan masyarakat dalam penanaman bahan baku, produksi hingga pemasaran. Kelompok UMKM Maju Bersama yang dipimpinnya beranggotakan 10 perempuan dan turut menjalankan koperasi simpan pinjam untuk membantu mengatasi keterbatasan modal usaha.

Beragam produk telah dihasilkan Liwut Sari, di antaranya sari temulawak, sari jahe merah, sari kunyit, kunyit asam, beras kencur dan masker berbahan herbal. Menurut Rosalia, permintaan terhadap produk herbal terus terbuka seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat dan minat terhadap produk berbahan alami.

“Dalam proses produksi, pemilihan dan penanganan bahan baku menjadi perhatian untuk menjaga keamanan serta kualitas produk, sementara penerapan standar operasional prosedur dilakukan untuk memastikan kebersihan dan konsistensi produksi. Sari temulawak dan sari jahe menjadi produk yang banyak diminati, dengan pemasaran telah menjangkau sejumlah daerah seperti Jakarta, Maumere, Labuan Bajo, Bajawa, Ende hingga Merauke”, ucapnya.

Meski memiliki peluang pasar, pengembangan usaha masih menghadapi kendala berupa keterbatasan modal, peralatan produksi, inovasi kemasan dan akses pasar. Liwut Sari kini memanfaatkan Instagram, Facebook, TikTok, WhatsApp, pemasaran dari mulut ke mulut, serta penjualan langsung kepada konsumen, toko, apotek dan perkantoran untuk memperluas jangkauan pasar.

Rosalia menilai dukungan yang dibutuhkan pelaku UMKM tidak cukup hanya berupa bantuan modal, tetapi juga pendampingan bisnis yang terstruktur, pelatihan dan perluasan akses pasar. Ia berharap generasi muda melihat tanaman lokal bukan sekadar sumber kebutuhan rumah tangga, melainkan potensi yang dapat diolah menjadi produk bernilai tambah dan menjadi kekuatan ekonomi daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....