Mie Cekke Andalkan Level Pedas Gaet Konsumen Muda

  • 14 Agt 2026 19:29 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende – Usaha kuliner rumahan Mie Cekke memanfaatkan tren makanan pedas dan pilihan topping untuk menarik konsumen muda di Ende. Pemilik Mie Cekke, Intan Kartika, mengembangkan produknya dengan tiga tingkat kepedasan dan sejumlah topping sebagai strategi membangun daya tarik pelanggan.

Intan mengatakan ide usaha tersebut muncul dari pengalamannya sebagai mahasiswa di Yogyakarta yang gemar mencoba berbagai olahan mi pedas. Setelah kembali ke Ende, ia melihat pilihan mi dengan karakter rasa serupa masih terbatas sehingga muncul keinginan untuk menghadirkan produk sendiri.

“Mi itu menurut saya makanan yang disukai semua kalangan, mulai anak-anak, remaja sampai orang dewasa. Kalau bosan makan nasi, biasanya orang terpikir untuk makan mi,” kata Intan dalam program Muda Kreatif Pro 2 RRI Ende, Senin, 10 Agustus 2026.

Mie Cekke kemudian dibuat dengan konsep yang menyasar konsumen yang menyukai sensasi pedas sekaligus variasi menu. Selain mi, Intan menawarkan topping seperti ayam teriyaki, ayam katsu dan pangsit goreng, dengan tiga pilihan tingkat kepedasan, yakni level Selay, Jerit dan Suanggi.

Menurut Intan, level kepedasan dan topping menjadi bagian penting dalam membangun rasa penasaran konsumen muda. Level Jerit menjadi pilihan yang paling banyak diminati, sementara level Suanggi yang paling pedas masih relatif jarang dipesan karena tingkat kepedasannya tinggi.

Menjaga konsistensi rasa menjadi tantangan lain dalam usaha tersebut. Intan melakukan uji coba bahan dan takaran sebelum menentukan produk yang digunakan, kemudian menerapkan sendok takar agar rasa Mie Cekke tetap stabil setiap kali dibuat.

Usaha yang dijalankan dari rumah di kawasan Arubara itu saat ini masih beroperasi khusus setiap Minggu karena Intan memiliki pekerjaan utama dari Senin hingga Sabtu. Ia bahkan tetap mengantarkan pesanan kepada pelanggan meski jarak menjadi salah satu kendala dalam pengembangan usaha.

Intan mengaku ingin memperluas jangkauan penjualan dan membuat Mie Cekke dikenal lebih luas. Ia juga tengah mempertimbangkan pengembangan menu baru, termasuk sate taichan, yang terinspirasi dari kegemarannya mencoba kuliner sejak kuliah.

Bagi Intan, membangun usaha tidak hanya tentang menjual produk, tetapi juga memahami selera pelanggan. “Jangan malu untuk mencoba. Kalau kita mulai lebih awal, pelanggan bisa memberikan masukan tentang apa yang kurang sehingga kita bisa terus memperbaiki produk,” ujarnya.

Intan berharap Mie Cekke ke depan dapat dipasarkan lebih luas hingga ke wilayah perkotaan dan beroperasi lebih rutin. Kisah tersebut menunjukkan bahwa peluang usaha dapat dimulai dari minat sederhana, kemudian dikembangkan melalui keberanian mencoba, konsistensi kualitas dan kemampuan membaca kebutuhan konsumen.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....