Rumah Hanasta Jaga Mutu Kopi Lokal Lamaole

  • 13 Agt 2026 10:51 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Rumah Hanasta menerapkan penyortiran manual ketat pada setiap biji kopi sebelum proses roasting untuk memastikan kualitas Kopi Lamaole tetap terjaga.
  • Biji kopi yang pecah, berwarna gelap atau hitam, serta berlubang dipisahkan dalam tahap penyortiran untuk meningkatkan standar produk akhir.
  • Pemilik Rumah Hanasta Eduardus Jong Eda Sogen menyatakan langkah pengendalian kualitas ini dilakukan seiring meningkatnya permintaan konsumen terhadap Kopi Lamaole.

RRI.CO.ID, Flores Timur - Rumah Hanasta terus menjaga kualitas Kopi Lamaole dengan memperketat pemilihan bahan baku hingga proses sangrai. Pemilik Rumah Hanasta, Eduardus Jong Eda Sogen, kepada RRI, Senin, 10 Agustus 2026, mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk mempertahankan cita rasa kopi lokal sekaligus memenuhi permintaan konsumen yang terus meningkat.

Eduardus menjelaskan, biji kopi yang diperoleh dari petani tidak langsung masuk ke proses roasting, tetapi terlebih dahulu melalui penyortiran manual. Biji pecah, berwarna gelap atau hitam, serta berlubang dipisahkan, kemudian biji kopi dikelompokkan berdasarkan ukuran kecil, sedang, dan besar agar masing-masing dapat disangrai secara terpisah.

Menurutnya, pemisahan ukuran biji penting karena setiap ukuran memiliki tingkat kematangan berbeda saat disangrai. Dengan mesin berkapasitas kecil yang digunakan Rumah Hanasta, pencampuran biji berukuran berbeda berisiko membuat biji kecil lebih cepat gosong sementara biji besar belum matang sempurna.

Konsistensi kualitas juga dijaga dengan turun langsung ke kebun dan berkomunikasi dengan petani lokal. Eduardus mendorong petani memetik buah kopi yang benar-benar matang berwarna merah serta memberikan edukasi mengenai proses pascapanen agar kualitas bahan baku lebih terjaga sejak dari kebun.

Setelah diperoleh dari petani, biji kopi kembali dijemur untuk menurunkan kadar air, lalu disortir sebelum diproses dengan profil roasting medium hingga dark. Rumah Hanasta juga memperhatikan penyimpanan dengan menjaga kondisi ruangan tetap sesuai suhu ruang, menghindari kelembapan berlebih dan paparan langsung lampu, serta memantau biji kopi untuk mencegah munculnya jamur.

Permintaan Kopi Lamaole saat ini tidak hanya datang dari wilayah Solor, tetapi juga pelanggan di luar daerah yang mengetahui produk tersebut melalui media sosial, termasuk dari Jawa, sementara keterbatasan produksi petani masih menjadi kendala utama.

Eduardus berharap pemerintah dan penyuluh pertanian memperkuat pendampingan kepada petani untuk meningkatkan budidaya dan perawatan tanaman kopi, sedangkan dari sisi Rumah Hanasta, penambahan kapasitas mesin roasting menjadi kebutuhan agar produksi dapat ditingkatkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....