Komunitas Widang Mete Buktikan Mete Bisa Jadi Peluang Usaha Menjanjikan

  • 27 Jul 2026 14:59 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Barat – Komunitas Widang Mete di Desa Wewo, Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat membuktikan komoditas mete dapat dikembangkan menjadi usaha bernilai ekonomi melalui inovasi pengolahan dan pemberdayaan masyarakat. Berawal dari inisiatif seorang anak muda pascapandemi COVID-19, komunitas ini kini mampu menghadirkan produk mete premium yang dipasarkan sebagai oleh-oleh khas Labuan Bajo.

Penggerak Komunitas Widang Mete, Adrianus Carli Nantu, mengungkapkan usaha tersebut mulai dirintis pada 2022 ketika dirinya belum memperoleh pekerjaan sesuai bidang yang ditekuni. Ia kemudian memilih memanfaatkan potensi mete yang melimpah di daerahnya sebagai peluang usaha yang mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.

Nama "Widang" dipilih karena dalam bahasa Manggarai berarti keberkahan. Filosofi itu menjadi pengingat bahwa hasil pertanian lokal dapat menjadi sumber kesejahteraan apabila diolah secara kreatif dan memiliki nilai tambah.

Dalam pengembangannya, komunitas menggandeng petani sebagai mitra penyedia bahan baku sekaligus melibatkan ibu rumah tangga dalam proses produksi. Mete yang dipanen disortir, dijemur, dikupas, diolah hingga dikemas dengan standar kualitas sebelum dipasarkan kepada konsumen.

Saat ini Widang Mete memproduksi empat varian utama, yakni mete panggang, mete goreng original, mete cokelat, dan mete gula merah. Selain itu, komunitas juga memasok mete mentah untuk memenuhi kebutuhan toko bahan kue dan pelaku usaha kuliner di Manggarai Barat.

Carli menjelaskan seluruh bahan baku masih berasal dari Desa Wewo yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi mete di Kabupaten Manggarai Barat. Komunitas membeli hasil panen petani dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan harga tengkulak sebagai upaya meningkatkan pendapatan petani sekaligus menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku.

Produk Widang Mete kini dipasarkan melalui sejumlah toko oleh-oleh, pusat penjualan produk lokal, dan berbagai mitra usaha di Labuan Bajo. Meningkatnya kunjungan wisatawan dimanfaatkan komunitas untuk memperkenalkan mete olahan sebagai salah satu buah tangan khas daerah.

Di balik perkembangan tersebut, komunitas masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan alat produksi yang sebagian besar masih dikerjakan secara manual serta ketersediaan bahan baku yang bergantung pada musim panen. Praktik penjualan hasil panen melalui sistem ijon juga menjadi kendala karena mengurangi pasokan mete yang dapat diolah oleh komunitas.

Untuk mengatasi persoalan itu, Widang Mete terus memperluas kemitraan dengan kelompok tani di sejumlah desa melalui pendampingan pengolahan, pengemasan, hingga pemasaran produk. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Carli juga mengajak generasi muda agar tidak ragu mengembangkan potensi daerah menjadi usaha yang berdaya saing. Menurutnya, keberanian memulai, berinovasi, dan memanfaatkan teknologi digital menjadi kunci agar komoditas lokal tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi mampu menjadi produk unggulan yang memberikan nilai ekonomi lebih besar.

mete

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....