Hobi Jadi Cuan, Happy Farms Hidroponik Selada Tembus Pasar Pariwisata Labuan Bajo
- 17 Apr 2026 21:02 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Barat – Berawal dari sekadar coba-coba, dua pemuda di Labuan Bajo, Muhammad Ali Djainuddin (25) dan Muhammad Irfan (28), berhasil mengembangkan usaha hidroponik bernama Happy Farms yang kini memasok kebutuhan sayur ke sektor pariwisata di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ali menceritakan, ide awal ia bersama Irfan membangun hidroponik muncul secara spontan setelah melihat milik temannya di Jawa. Berbekal rasa penasaran, ia kemudian mencoba menerapkan sistem serupa di rumah dengan memanfaatkan lahan kosong berukuran sekitar 5 x 12 meter.
“Awalnya cuma ide sekilas, tapi langsung kita kerjakan. Dulu hanya dua meja dengan beberapa pipa, sekarang sudah berkembang,” ujarnya, Jumat 17 April 2026.
Ia menambahkan, proses pembuatan instalasi hidroponik juga dipelajari secara mandiri dari internet, begitupun dengan proses penanaman mulai dari pembibitan dan panen.
“Awalnya belajar dari YouTube, sosial media lain juga, tapi tetap dibantu tukang saat pemasangan instalasi. Jadi konsepnya terinspirasi dari YouTube, karena di sana dijelaskan ukuran, kemiringan, dan sistem pemasangannya,” kata Ali.
Dalam satu siklus, tanaman selada yang dibudidayakan membutuhkan waktu sekitar 45 hari sejak bibit hingga panen. Namun, dengan sistem tanam bergilir yang diterapkan, panen dapat dilakukan dua hingga tiga kali dalam sebulan.
“Jadi tidak menunggu semua panen sekaligus, kita atur jadwalnya supaya terus berputar,” ungkapnya.
Sekali panen, hasil produksi mencapai sekitar 155 hingga 180 kilogram. Selada tersebut dijual dengan harga Rp65 ribu per kilogram, dengan pasar utama berasal dari supplier yang menyuplai kebutuhan hotel dan kapal wisata di Labuan Bajo.
“Sekarang kebanyakan pembeli dari supplier yang kirim ke hotel dan kapal wisata,” ucap Ali.
Pengelolaan kebun hidroponik ini dilakukan secara bergantian oleh Ali dan Irfan setiap hari. Fokus utama dalam perawatan adalah memastikan aliran air tetap lancar serta memantau kondisi tanaman.
“Yang kita pantau itu aliran air dan kondisi selada, karena itu yang paling berpengaruh,” katanya.
Ia mengakui, tantangan terbesar dalam usaha ini adalah ketersediaan air yang harus selalu bersih dan stabil. Selain itu, musim pancaroba juga menjadi kendala karena rentan memicu serangan hama dan jamur.
“Air harus benar-benar bersih supaya tidak ada hama dan jamur. Itu yang paling penting,” ucapnya.
Meski awalnya hanya sebagai hobi, usaha hidroponik Happy Farms kini mulai memberikan manfaat ekonomi sekaligus kepuasan pribadi bagi Ali dan Irfan.
“Karena ini juga hobi, ada kepuasan tersendiri saat kami menjalaninya. Selain itu, lahannya tidak terlalu besar dan bisa membantu keuangan bulanan,” ungkapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....