Harga Kopi Arabika Manggarai Cetak Rekor Baru, Tembus Rp120 Ribu/Kg

  • 03 Jun 2026 11:16 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai – Harga komoditas kopi jenis Arabika Manggarai-Flores melonjak sangat tajam di tahun 2026. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, lonjakan ini menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah perdagangan kopi di wilayah Manggarai Raya.

Lonjakan harga kopi Arabika yang terbilang fantastis ini membuat sejumlah pembeli di Manggarai mengaku kesulitan memperoleh pasokan dari petani. Di tingkat petani, harga kopi arabika kini mencapai kisaran Rp115.000 hingga Rp120.000 per kilogram.

Salah satu pembeli kopi di Manggarai, Vitus Parman, mengaku semenjak dirinya semenjak dirinya terjun di sektor bisnis perdagangan kopi, baru tahun ini harganya mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah. "Sepanjang kami kerja kopi, tahun 2026 ini menjadi harga tertinggi untuk kopi Arabika," kata Vitus kepada RRI, Selasa, 2 Juni 2026.

Vitus menyebut, jika pada 2023 harga kopi Arabika masih berada di kisaran Rp82 ribu per kilogram, lalu naik menjadi Rp87 ribu pada 2024 dan Rp90 ribu pada 2025, kini, di tahun 2026, harga di tingkat petani telah mencapai Rp115 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram.

Meski belum mengetahui secara pasti faktor yang menyebabkan lonjakan harga kopi tersebut, Vitus menduga penurunan produksi yang tidak sebanding dengan tingginya permintaan pasar menjadi salah satu pemicunya. Permintaan yang terus meningkat, baik dari pasar domestik maupun internasional, sementara pasokan di tingkat petani cenderung terbatas.

Kenaikan harga yang signifikan ini diduga terjadi akibat berkurangnya pasokan di tingkat petani, yang dibarengi dengan kualitas cita rasa kopi Arabika Manggarai-Flores yang kini sudah mendunia. "Harga ini tidak bisa dipastikan karena adanya penurunan produksi di tingkat petani atau karena cita rasanya yang sudah mendunia," katanya.

Ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih serius terhadap sektor komoditas ini. Bantuan berupa bibit unggul dan pupuk sangat dibutuhkan para petani guna mendongkrak kembali produktivitas kebun kopi mereka.

Selain Vitus, Ferdy yang juga salah satu pembeli kopi jenis ini mengeluhkan modal usahanya yang terkuras habis akibat lonjakan harga tersebut. "Untuk sementara stop dulu ase (adik)," ungkapnya. Ferdy mengaku heran mengapa harga di Manggarai bisa melambung jauh tingginya harga kopi di Manggarai, padahal harga di Pulau Jawa terpantau masih berada di bawah harga lokal saat ini.

Ia menyoroti maraknya pembeli dari luar daerah yang memang sangat menguntungkan para petani, tetapi di saat yang sama justru mencekik modal para pedagang lokal. "Banyak pembeli dari luar ni ase (adik). Ya, memang sangat menguntungkan petani, tapi kan tidak bisa dijual dengan harga begini. Mati kita punya modal," tuturnya.

Meski ia mengaku bahwa tidak semua wilayah dapat ditumbuhi kopi jenis ini, namun potensi yang ada harus tetap dioptimalkan. Ferdi berharap agar lahan-lahan kosong yang ada bisa dimanfaatkan untuk menanam kopi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....