Literasi di Lembata Didorong Masuk ke Kehidupan Petani dan Nelayan
- 21 Mei 2026 16:49 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Lembata – Pemerintah Kabupaten Lembata mulai mendorong gerakan literasi yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat, terutama petani dan nelayan. Literasi kini tidak lagi dipahami sekadar membaca buku, tetapi kemampuan memahami dan memanfaatkan informasi untuk meningkatkan kualitas hidup.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lembata, Ansel Wahi, mengatakan pemahaman masyarakat tentang literasi selama ini masih terbatas pada kemampuan membaca dan menulis. Padahal, literasi juga berkaitan dengan kemampuan berpikir kritis dan memecahkan persoalan sehari-hari.
Dalam dialog di Pro 1 RRI Ende, Rabu 6 Mei 2026, Ansel menjelaskan perubahan cara pandang terhadap literasi menjadi penting di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi yang semakin cepat. Menurutnya, masyarakat perlu dibekali kemampuan memahami informasi agar mampu meningkatkan daya saing.
Ia mengatakan literasi dapat diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk pertanian, peternakan, dan perikanan. Petani dan nelayan didorong untuk membaca situasi, memahami informasi baru, hingga memanfaatkan teknologi guna meningkatkan produktivitas kerja mereka.
“Literasi bukan hanya soal membaca buku, tetapi bagaimana masyarakat mampu memahami informasi dan menggunakannya untuk meningkatkan kualitas hidup,” ujar Ansel.
Menurutnya, petani dan nelayan saat ini dapat memperoleh pengetahuan dari berbagai sumber, seperti media digital, sosialisasi pemerintah, maupun pendampingan tenaga penyuluh lapangan. Pengetahuan tersebut kemudian diterapkan untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
Pemerintah daerah juga membangun ruang belajar bersama dengan melibatkan penyuluh pertanian dan tokoh masyarakat. Program itu dipadukan dengan penyediaan buku motivasi serta referensi praktis yang sesuai dengan kebutuhan warga.
Ansel menilai pendekatan tersebut menjadi bagian dari gerakan literasi yang lebih kontekstual. Literasi harus hadir dekat dengan kebutuhan masyarakat dan mampu memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan warga.
Selain program berbasis masyarakat, Festival Literasi Lembata tahun ini juga menghadirkan klinik literasi bertema lingkungan dan budaya lokal. Dalam kegiatan itu, masyarakat akan belajar praktik pengolahan jagung, pemanfaatan energi matahari, hingga keterampilan menenun.
Kegiatan tersebut lebih banyak menitikberatkan pada praktik dibanding teori agar masyarakat dapat langsung menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pemerintah daerah ingin festival literasi menjadi ruang pembelajaran yang hidup dan aplikatif.
Ansel menegaskan Festival Literasi Lembata tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan. Pemerintah berharap gerakan literasi berbasis kehidupan itu mampu membentuk masyarakat Lembata yang lebih produktif, kreatif, dan siap bersaing di masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....