Strategi Cerdas Kelola Inflasi di tengah Ketidakpastian Ekonomi

  • 09 Apr 2026 05:28 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Inflasi di Indonesia masih tergolong terkendali, namun tetap dipengaruhi kondisi global.
  • Faktor utama inflasi meliputi ketersediaan barang, distribusi energi, dan dinamika geopolitik.
  • Strategi keuangan: penghematan, menabung, dan alokasi investasi.
  • Investasi yang disarankan: emas dan sektor pertanian.
  • Masyarakat diimbau menghindari investasi bodong dengan iming-iming keuntungan besar.
  • Kunci menghadapi inflasi: hidup hemat, bijak, dan kembali ke prinsip dasar ekonomi keluarga.

RRI.CO.ID, Ende - Inflasi yang terus bergerak dinamis menjadi tantangan serius bagi masyarakat, terutama dalam menjaga daya beli dan menentukan strategi investasi yang tepat. Hal tersebut disampaikan oleh Sakti Indra Gunawan, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang, dalam program siaran RRI bertajuk Inflasi dan Investasi, Rabu 8 April 2026.

Menurutnya, secara nasional tingkat inflasi masih tergolong terkendali. Namun demikian, tekanan ekonomi global, termasuk konflik geopolitik dan gangguan distribusi energi, tetap memberikan dampak terhadap kenaikan harga barang dan jasa di dalam negeri.

“Inflasi saat ini masih dalam batas yang bisa dikendalikan. Pemerintah juga terus berupaya menjaga stabilitas melalui berbagai kebijakan, termasuk subsidi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, salah satu faktor utama penyebab inflasi adalah ketidakseimbangan antara ketersediaan barang dan permintaan pasar. Selain itu, dinamika global seperti gangguan distribusi minyak dan kondisi geopolitik turut memperparah tekanan inflasi.

Dampak inflasi, lanjutnya, paling dirasakan oleh kelompok masyarakat menengah ke bawah. Penurunan daya beli membuat konsumsi masyarakat melemah, bahkan pelaku UMKM mengalami penurunan penjualan meskipun telah menyesuaikan harga.

Dalam konteks pengelolaan keuangan, ia menyoroti kesalahan umum masyarakat yang masih sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Pola konsumsi yang cenderung impulsif dinilai dapat memperburuk kondisi keuangan, terutama di tengah situasi ekonomi yang tidak pasti.

“Yang penting sekarang adalah menahan diri. Dahulukan kebutuhan dibanding keinginan. Jangan sampai pengeluaran melebihi kemampuan,” ucapnya. Ia juga menekankan pentingnya memiliki dana darurat, minimal untuk kebutuhan tiga bulan ke depan, serta membiasakan menabung sebagai langkah antisipasi menghadapi ketidakpastian.

Dalam hal investasi, ia menyarankan masyarakat untuk memilih instrumen yang relatif aman seperti emas. Selain itu, sektor pertanian dinilai memiliki prospek yang baik karena berkaitan langsung dengan kebutuhan pangan.

“Ke depan, investasi yang paling penting adalah pangan. Selain bisa dikonsumsi sendiri, hasilnya juga bisa dijual,” katanya. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur dengan investasi yang menjanjikan keuntungan besar dalam waktu singkat.

Menurutnya, investasi yang sehat selalu membutuhkan proses dan perencanaan yang matang. Di akhir pernyataannya, ia mengajak masyarakat untuk kembali menerapkan pola hidup sederhana dan bijak dalam mengelola keuangan, serta memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar.

“Dalam kondisi seperti ini, kita perlu kembali ke prinsip dasar, hidup hemat, menabung, dan memanfaatkan alam secara bijak,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....