Pengguna QRIS NTT Tembus 310 Ribu Orang
- 30 Mei 2025 09:42 WIB
- Ende
KBRN, Ende: Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Nusa Tenggara Timur mencatat jumlah pengguna Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di wilayahnya mencapai 310 ribu orang pada triwulan I 2025. Angka ini tumbuh sebesar 30,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yang mencatatkan 305,6 ribu pengguna.
Ekonom Bank Indonesia Nusa Tenggara Timur, Teguh Ersada Natail Sitepu, dalam keterangan persnya, Kamis, (29/5/2025) menjelaskan peningkatan jumlah pengguna QRIS di wilayah NTT merupakan hasil nyata dari percepatan digitalisasi sistem pembayaran. Bank Indonesia bersama mitra strategis terus mendorong transformasi digital ini untuk mempermudah transaksi masyarakat dan pelaku usaha.
“Pertumbuhan QRIS ini tidak hanya mencerminkan perubahan perilaku masyarakat dalam bertransaksi, tetapi juga keberhasilan edukasi digital di berbagai lapisan masyarakat, termasuk pelaku UMKM,” ujarnya.
Tak hanya dari sisi pengguna, jumlah merchant yang menerima QRIS juga mengalami lonjakan. Hingga triwulan I 2025, tercatat sebanyak 271 ribu merchant di NTT telah mengadopsi sistem pembayaran digital ini.
Jumlah tersebut naik 40,9 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencatat 257,7 ribu merchant. BI menargetkan jumlah merchant penerima QRIS di NTT bisa mencapai 290,3 ribu pada akhir tahun 2025.
Adapun volume transaksi QRIS di NTT selama triwulan I 2025 mencapai 5,5 juta transaksi atau sekitar 20,6 persen dari total target tahun 2025 yang ditetapkan sebesar 26,5 juta transaksi. Sebagai perbandingan, sepanjang tahun 2024, total volume transaksi QRIS di wilayah ini mencapai 22,4 juta transaksi.
Wilayah dengan pengguna QRIS tertinggi adalah Kota Kupang, yang menyumbang sekitar 23 persen dari total pengguna di seluruh provinsi. Sebaliknya, Kabupaten Sabu Raijua menjadi wilayah dengan kontribusi terendah, yakni kurang dari 1 persen.
Teguh menyebut tren peningkatan transaksi non-tunai ini juga berkorelasi dengan penurunan outflow uang kartal di NTT, serta lonjakan transaksi e-commerce yang tumbuh lebih dari 61 persen secara tahunan. Hal ini menjadi sinyal positif dalam perkembangan ekonomi digital daerah.
Ke depan, BI NTT akan terus memperluas adopsi QRIS hingga ke wilayah kepulauan dan pelosok, agar manfaat ekonomi digital dapat dirasakan secara lebih merata.
“Kami juga akan memperluas pelatihan dan pendampingan kepada pelaku UMKM agar tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga penggerak utama ekosistem digital daerah,” kata Teguh.
Dengan digitalisasi yang semakin merata, BI optimistis ekonomi digital akan menjadi pengungkit utama pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di Nusa Tenggara Timur.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....