Petani Golo Damu, Mbeliling Kembangkan Nanas di Lahan Hampir 2 Hektare
- 19 Sep 2026 22:47 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Barat – Petani di Kampung Ndole, Desa Golo Damu, Kecamatan Mbeliling, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Blasius Agen, memilih tanaman nanas sebagai komoditas utama setelah sebelumnya mengembangkan kemiri di lahan miliknya.
Pria berusia 71 tahun itu kini mengelola kebun nanas seluas hampir dua hektare dengan sekitar 15 ribu pohon. Budidaya tersebut telah dijalankannya selama kurang lebih 15 tahun.
Blasius mengatakan, nanas dipilih karena waktu panennya lebih teratur dibandingkan kemiri yang produksinya tidak selalu sama setiap tahun.
“Kalau kemiri itu kadang tahun ini berbuah, kadang tidak. Panennya sedikit,” kata Blasius saat ditemui di kebunnya, Jumat 18 September 2026.
Sebelum beralih ke nanas, Blasius memiliki sekitar 24 pohon kemiri yang telah berukuran besar dan menghasilkan buah. Tanaman tersebut kemudian ditebang sekitar enam hingga tujuh tahun lalu untuk membuka ruang bagi pengembangan nanas.
Menurutnya, perawatan nanas relatif mudah, meski pembersihan gulma menjadi salah satu pekerjaan yang membutuhkan perhatian karena tanaman memiliki duri. Kebun harus dibersihkan secara rutin agar pertumbuhan nanas tidak terganggu.
“Ini gampang. Tapi pembersihannya sulit karena ada durinya. Harus rutin, kalau terlambat sedikit, rumput sudah di atas dan nanas kurang tumbuh,” ujarnya.
Produksi nanas di kebun Blasius berlangsung secara bertahap. Pada kondisi tertentu, panen dapat dilakukan setiap minggu, sementara ketika buah yang siap dipetik lebih sedikit, jaraknya sekitar dua minggu.
Dalam satu kali panen, hasilnya berkisar 50 buah saat produksi rendah dan dapat mencapai 600 hingga 700 buah ketika produksi meningkat. Nanas tersebut kemudian dibawa untuk dijual kepada pedagang yang memasarkannya di wilayah Labuan Bajo.
“Orang pasar Labuan Bajo yang ambil. Mereka bawa 200, 300 biji,” katanya.
Harga jual di tingkat petani menyesuaikan ukuran buah dan jumlah pembelian. Nanas yang dibeli dalam jumlah besar dapat dihargai sekitar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per buah, sedangkan pembelian dalam jumlah lebih sedikit berada pada kisaran Rp25 ribu hingga Rp35 ribu per buah.
Lebih lanjut, Blasius menyebut dari sekali membawa hasil panen untuk dipasarkan, pendapatannya dapat mencapai sekitar Rp6 juta hingga Rp7 juta.
“Sekitar Rp6–7 juta,” katanya.
Selain nanas, Blasius masih mengusahakan tanaman kopi arabika dan cengkeh. Namun, nanas menjadi komoditas yang paling difokuskan untuk menopang kebutuhan sehari-hari.
“Ini yang utama. Ini yang saya fokus,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....