Rabu Trewa Larantuka, Kegaduhan Sakral Penuh Makna
- 17 Apr 2025 10:21 WIB
- Ende
KBRN, Flotim: Ratusan pemuda Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, memperagakan peristiwa penangkapan Yesus Kristus dalam tradisi yang dikenal sebagai "Trewa", Rabu malam (16/4/2025). Aksi ini dilakukan dengan menyeret seng dan memukul kayu, menciptakan kegaduhan yang menggema sepanjang jalur prosesi Semana Santa.
Tradisi ini dimulai sekitar pukul 20.00 WITA dari depan Kapela Tuan Ana di Kelurahan Larantuka dan berakhir di Kapela Tuan Ana di Kelurahan Lohayong. Aksi berlangsung selama satu jam, dengan pengamanan ketat dari pihak keamanan dan panitia Semana Santa.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, Trewa kali ini berlangsung tertib dan lebih kondusif. Para pemuda, sebagian besar anggota komunitas lokal, membawa potongan seng bekas dan kayu untuk menciptakan suara gaduh yang melambangkan kegembiraan para pembenci Yesus saat penangkapannya.
Dinasti Raja Larantuka, Don Andreas Martinus Diaz Viera de Godinho (DVG), menjelaskan bahwa Trewa menggambarkan perasaan bangga para penolak Yesus Kristus yang menuduh-Nya menghujat dengan mengaku sebagai Raja Anak Allah.
"Itu ungkapan rasa bangga. Karena pembenci Yesus bangga telah menangkap Yesus yang mengaku sebagai Raja Anak Allah," ujarnya di Istana Raja Larantuka.
Tradisi Trewa menarik perhatian ribuan peziarah dari berbagai daerah. Banyak di antaranya terlihat terkejut, bahkan ketakutan saat menyaksikan aksi para pemuda yang menyeret seng di tengah malam. Beberapa peziarah berlari menjauh, mencari perlindungan di balik pagar kayu atau "Turo" yang membatasi jalur prosesi.
Salah satu peziarah asal Ende, Ella, mengaku pengalaman ini sangat berkesan baginya. Dirinya bersyukur dapat hadir dan mengikuti secara langsung rangkaian acara semana santa tahun ini.
“Luar biasa, sudah lama saya ingin mengikuti dan melihat ini. Sungguh pengalaman yang luar biasa,” ujarnya.
Tradisi Trewa merupakan bagian dari rangkaian Semana Santa, ritual Katolik peninggalan Portugis yang sudah berusia lebih dari dua abad dan hanya ada di Larantuka. Tradisi ini mengantar umat memasuki masa Tri Hari Suci: Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Suci dengan refleksi mendalam atas penderitaan Kristus.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....