Sikka Bangun Model Konvergensi Pengentasan Kemiskinan Ekstrem
- 19 Jul 2026 08:56 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Sikka – Pemerintah Kabupaten Sikka bersama SOS Children’s Villages Flores membangun model kolaborasi pengentasan kemiskinan ekstrem berbasis konvergensi di Desa Habi, Kecamatan Kangae, dan Desa Gong Bekor, Kecamatan Alok Timur. Kedua desa itu diproyeksikan menjadi lokasi percontohan penanganan kemiskinan yang melibatkan pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, akademisi, media massa, dan masyarakat secara terpadu.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Workshop Kolaboratif Menggapai Model Aksi Konvergensi Pengentasan Kemiskinan dan Kemiskinan Ekstrem yang dirangkaikan dengan Rapat Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan di Aula Bapperida Kabupaten Sikka, Rabu 15 Juli 2026. Kegiatan itu berlangsung selama dua hari, 15–16 Juli 2026, dengan fokus pada penyusunan strategi percepatan penurunan kemiskinan ekstrem.
Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago mengatakan kemiskinan tidak dapat dipandang semata-mata sebagai persoalan rendahnya pendapatan. Menurutnya, kemiskinan juga berkaitan dengan keterbatasan akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, perlindungan sosial, serta lingkungan pengasuhan yang layak bagi anak.
“Dalam tekanan ekonomi, anak-anak adalah kelompok yang paling rentan kehilangan hak-hak dasarnya. Karena itu, strategi kita harus bergeser dari sekadar memberikan bantuan sesaat menuju penguatan kapasitas keluarga agar mampu mandiri secara berkelanjutan,” katanya.
Juventus menjelaskan keberhasilan pengentasan kemiskinan harus dibangun melalui empat pilar utama, yakni penguatan pengasuhan keluarga, pemenuhan layanan dasar, penguatan ekonomi keluarga, serta partisipasi anak dalam proses pembangunan. Keempat pilar tersebut dipadukan dalam pendekatan konvergensi agar intervensi terhadap keluarga miskin berjalan lebih efektif dan terukur.
Pada aspek penguatan ekonomi keluarga, pemerintah mendorong pelatihan keterampilan, pendampingan usaha, pembentukan kelompok ekonomi produktif, peningkatan akses permodalan, pengembangan produk lokal, hingga perluasan akses pasar. Sementara pada layanan dasar, pemerintah menekankan pentingnya akses pendidikan, kesehatan, gizi, air bersih, sanitasi, perlindungan sosial, identitas kependudukan, dan perlindungan anak
Bupati menegaskan upaya menurunkan angka kemiskinan ekstrem tidak mungkin diselesaikan oleh satu organisasi perangkat daerah atau satu lembaga saja. Ia meminta seluruh pemangku kepentingan meninggalkan ego sektoral dan membangun kolaborasi lintas sektor.
“Pemerintah, akademisi, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, media massa, hingga masyarakat harus berjalan bersama. Kolaborasi adalah kunci agar program ini benar-benar berdampak bagi masyarakat,” ujarnya
Ia berharap model yang dikembangkan di Desa Habi dan Desa Gong Bekor dapat menjadi rujukan bagi pelaksanaan program serupa di desa-desa lain di Kabupaten Sikka. Dengan demikian, pola penanganan kemiskinan berbasis konvergensi dapat direplikasi sesuai kebutuhan masing-masing wilayah.
Dalam forum tersebut dijelaskan bahwa SOS Children’s Villages Flores mengintegrasikan berbagai program dan sumber daya lintas sektor agar pendampingan keluarga sasaran berlangsung lebih efektif, terukur, dan berkelanjutan. Pendekatan ini diharapkan mampu menyatukan langkah pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, akademisi, dan media dalam membantu keluarga keluar dari kemiskinan secara mandiri.
Rapat koordinasi itu juga diarahkan untuk mengidentifikasi penyebab kemiskinan ekstrem di Kabupaten Sikka, menyusun strategi dan program prioritas, serta merumuskan rekomendasi kebijakan percepatan penurunannya. Kegiatan tersebut dihadiri pimpinan perangkat daerah, organisasi masyarakat sipil, pelaku dunia usaha, akademisi, perwakilan Aliansi Wartawan Sikka, Camat Alok Timur, Camat Kangae, Penjabat Kepala Desa Habi, serta Penjabat Kepala Desa Gong Bekor.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....