Membangun Indonesia Dimulai Dari Kampung Kecil Terpencil

  • 11 Mei 2026 10:41 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Program KITA INDONESIA Pro Dua RRI Ende mengangkat tema membangun Indonesia dari desa kecil.
  • Vikar menilai nasionalisme diwujudkan melalui aksi nyata di lingkungan sekitar.
  • Taman Baca Ila Onenua hadir sebagai ruang literasi di pelosok Kampung Detupau.
  • Anak-anak diedukasi tentang keberagaman, literasi digital, dan bahaya hoaks.
  • Dalam lima tahun ke depan, Ila Onenua ditargetkan menjadi pusat pemberdayaan masyarakat desa.

RRI.CO.ID, Ende - Semangat membangun bangsa dari pelosok menjadi pembahasan utama dalam program KITA INDONESIA” di Pro Dua RRI Ende dengan tema “Membangun Indonesia Dari Desa Kecil.” Acara tersebut menghadirkan Vikar Laka, pendiri Taman Baca Ila Onenua di Kampung Detupau, Desa Likanaka, Kecamatan Wolowaru, yang membagikan pengalaman membangun ruang literasi sebagai bentuk nyata kecintaan terhadap Indonesia, Senin, 6 April 2026.

Bagi Vikar, Indonesia bukan sekadar wilayah geografis yang luas, melainkan keberagaman yang hidup dalam harmoni. Ia mengibaratkan Indonesia seperti meja makan yang dipenuhi beragam jenis makanan, namun tetap dinikmati bersama dalam suasana kebersamaan. Menurutnya, keberagaman budaya, bahasa, dan cara hidup justru menjadi kekuatan bangsa yang harus dijaga sejak dini.

“Indonesia itu seperti meja makan yang penuh berbagai hidangan. Berbeda-beda, tetapi tetap dinikmati bersama dengan lahap. Itulah kekayaan kita,” ujar Vikar. Ia menambahkan, nasionalisme tidak selalu diwujudkan melalui simbol formal seperti upacara bendera, melainkan melalui aksi nyata mencintai lingkungan sekitar, termasuk mendirikan taman baca di kampung sebagai ruang tumbuh generasi muda.

Vikar memilih membangun dari kampung karena percaya perubahan besar sering kali bermula dari pinggiran. Menurutnya, pembangunan Indonesia tidak cukup hanya mempercantik kota, tetapi juga harus memperkuat desa-desa kecil sebagai fondasi utama bangsa.

Di Kampung Detupau, akses listrik hingga kini masih terbatas, sehingga tantangan pendidikan dan literasi menjadi lebih kompleks. Meski demikian, keterbatasan tidak menyurutkan langkahnya. Melalui Taman Baca Ila Onenua, anak-anak diajak mengenal dunia lewat buku, memahami keberagaman Indonesia, hingga belajar bijak menggunakan media sosial agar tidak mudah terjebak informasi palsu.

“Kami ingin anak-anak di kampung tidak mudah percaya hoaks dan bisa menggunakan media sosial dengan bijaksana supaya tidak mudah dipecah belah,” katanya. Selain mendorong budaya membaca, Vikar juga menanamkan pendidikan karakter dan kepedulian lingkungan.

Anak-anak dilibatkan dalam kegiatan bersih lingkungan serta belajar mengenali potensi lokal seperti kopi. Bahkan, ia mulai mengembangkan label “Kopi Kita” sebagai media edukasi agar generasi muda bangga terhadap profesi petani dan mampu menghasilkan produk berkualitas dari kampung sendiri.

Ke depan, Vikar menargetkan Taman Baca Ila Onenua berkembang menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, ruang kreativitas anak muda, pelestarian budaya lokal, sekaligus pusat literasi desa. Ia pun menitipkan pesan kepada generasi muda agar tidak menunggu jabatan tinggi untuk berkontribusi bagi bangsa.

“Indonesia tidak akan terang hanya dengan satu obor besar di Jakarta, tetapi dengan ribuan lilin kecil di setiap sudut kampung,” ujarnya tegas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....