Myscha, Siswi SDI Compang Ngeles Tulis Surat Curhat untuk Presiden Prabowo

  • 26 Apr 2026 17:59 WIB
  •  Ende

RRI.CO.OD, Manggarai Timur - Dari sebuah ruang kelas sederhana di pelosok Manggarai Timur, terselip sebuah surat tulisan yang lahir dari tangan mungil seorang siswi pemberani sekolah dasar kelas lima. Ia bernama Myscha, murid SDI Compang Ngeles, Desa Rana Gapang, Kecamatan Elar, wilayah yang masuk kategori 3T (terdepan, terluar, tertinggal) di Nusa Tenggara Timur.

Dengan bahasa polos khas anak-anak, ia menuliskan kegelisahan yang selama ini ia pendam tentang Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digaungkan pemerintah pusat. Dalam surat terbukanya kepada Presiden Prabowo Subianto, Myscha mengaku hanya bisa melihat program tersebut melalui layar televisi dan media sosial.

Di daerah lain, teman-teman seusianya tampak sudah menikmati makanan bergizi di sekolah. Namun di bangku sekolahnya, program itu belum juga hadir. “Di TV dan YouTube saya lihat daerah lain sudah lama jalan. Teman-teman sudah makan, tapi di sekolah kami sampai hari ini belum ada,” tulisnya dalam surat yang ia buat, Minggu, 26 April 2026.

SDI Compang Ngeles sendiri berada di wilayah dengan akses yang terbatas, jalan yang sulit, dan layanan dasar yang belum sepenuhnya merata. Kondisi geografis ini diduga turut memengaruhi lambatnya distribusi program-program pemerintah, termasuk MBG.

Namun bukan hanya soal ketimpangan yang ia soroti. Dalam tulisannya, Myscha juga mengungkapkan kekhawatiran yang muncul dari pemberitaan kasus keracunan makanan di sejumlah daerah yang dikaitkan dengan program tersebut. Kekhawatiran itu bahkan membuatnya ragu. “Saya jadi takut, Pak. Takut pusing dan sakit perut. Kalau suatu saat MBG masuk ke sekolah saya, saya tidak mau makan,” tulisnya jujur.

Di bagian lain suratnya, ia menawarkan pandangan sederhana namun kritis: agar anggaran program dapat disalurkan langsung ke sekolah atau orang tua siswa. Menurutnya, skema itu bisa lebih aman sekaligus menyesuaikan kebutuhan anak di masing-masing daerah.

Ia juga menyinggung adanya isu pemotongan anggaran oleh oknum di beberapa wilayah lain yang sempat beredar di pemberitaan. Lebih jauh, Myscha justru mengalihkan harapannya pada hal yang lebih mendasar: kondisi sekolah dan kesejahteraan guru di daerahnya.

Ia menyebut masih banyak kebutuhan yang belum terpenuhi, mulai dari tas, buku, dan seragam, hingga ruang kelas yang memerlukan perbaikan. “Saya yakin kalau guru sejahtera dan sekolah bagus, kami pasti jadi pintar. Nggak perlu takut keracunan juga,” tulisnya menutup surat.

Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan resmi dari Dinas Pendidikan Kabupaten Manggarai Timur maupun Badan Gizi Nasional terkait implementasi Program MBG di SDI Compang Ngeles.

Surat sederhana itu kini disebut akan dikirim ke Istana Negara dan turut disebarkan melalui media sosial, dengan harapan suara seorang siswi dari pelosok NTT dapat sampai ke meja pengambil kebijakan di tingkat nasional.

Berikut bunyi surat tulisan Myscha;

Kepada Yth.

Bapak Presiden Prabowo Subianto

Di Jakarta

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk Bapak Presiden.

Nama saya Myscha. Saya murid kelas 5 di SDI Compang Ngeles, Desa Rana Gapang, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur. Sekolah saya jauh di pelosok, Pak. Termasuk daerah 3T.

Bapak Presiden, saya mau cerita. Di TV dan YouTube saya sering lihat berita tentang Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Bapak. Katanya program Bapak bagus sekali.

Tapi Pak, sampai hari ini MBG belum sampai di sekolah kami. Teman-teman di daerah lain sudah lama makan, tapi kami di sini belum.

Bapak, saya juga sering lihat berita anak-anak keracunan habis makan MBG. Saya jadi takut, Pak. Takut pusing dan sakit perut. Takut keracunan kayak di TV.

Kalau suatu saat MBG masuk ke sekolah saya, saya tidak mau makan, Pak. Saya takut.

Bapak Presiden, boleh tidak kalau uangnya saja yang dikasih langsung ke sekolah atau ke Mama Bapak saya? Biar kami yang atur sendiri. Soalnya kami yang paling tau kami mau makan apa. Kami juga tau rasa masakan Mama paling enak dan aman.

Selain itu Pak, menurut saya lebih baik uangnya dipakai untuk:

  1. Beli tas, buku, sepatu, seragam, sama perlengkapan sekolah lainnya buat kami yang belum punya.
  2. Kasih gaji yang cukup buat Ibu Bapak Guru kami. Guru saya baik-baik, Pak. Tapi kasian, mereka juga butuh hidup layak.
  3. Benerin sekolah kami. Atap dari seng bekas, dinding rapuh, kursi meja banyak yang rusak, dinding dan atap kadang bocor. perpustakaan kekurangan buku, dan masih banyak lagi kekurangan lainnya, Pak.

Saya yakin kalau guru sejahtera dan sekolah bagus, kami pasti jadi pintar, Pak. Nggak perlu takut keracunan juga.

Itu saja surat dari saya, Pak Presiden. Maaf kalau ada kata-kata saya yang salah. Saya cuma anak SD yang ingin sekolah dengan aman dan nyaman.

Tolong bantu sekolah kami di pelosok ya, Pak. Kami juga anak Indonesia. Kami juga mau pintar buat bantu Bapak bangun Indonesia.

Terima kasih Bapak Presiden.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Hormat saya,

Myscha

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....