Anak-Anak Kampung Jengok Bertaruh Nyawa Demi Sekolah

  • 15 Okt 2025 12:30 WIB
  •  Ende

KBRN, Ende: Di Kampung Jengok, Desa Wae Jare, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, perjuangan menuju sekolah bukan perkara mudah. Satu-satunya akses keluar-masuk kampung ini hanyalah sebuah jembatan bambu sederhana yang licin saat hujan dan nyaris runtuh. Di atas struktur rapuh inilah, setiap hari anak-anak harus mempertaruhkan nyawa demi menggapai pendidikan.

Jembatan darurat tersebut bukan hasil proyek pemerintah, melainkan buah gotong royong warga yang enggan menyerah pada keterisolasian. Namun, keterbatasan bahan dan kerasnya kondisi alam membuat jembatan itu jauh dari kata aman. “Setiap hari kami hanya bisa berdoa. Jembatan licin, apalagi saat musim hujan. Kami harus ekstra hati-hati membawa hasil bumi, tapi yang paling kami khawatirkan adalah anak-anak sekolah,” tutur Donatus Semidun (58), tokoh adat Kampung Jengok, dengan suara bergetar.

Bagi para siswa, jembatan bambu itu bukan sekadar penghubung dua tepian sungai, melainkan simbol harapan. Dengan tas berisi buku di punggung, mereka meniti bambu basah sambil menyeimbangkan langkah agar tak terjatuh ke sungai deras di bawahnya. Setiap tetes hujan membawa kecemasan baru, sebab derasnya arus dapat memutus akses mereka menuju sekolah.

Saat curah hujan tinggi, Kampung Jengok terisolasi total. Tak hanya pendidikan yang terhenti, warga juga kehilangan akses menuju fasilitas kesehatan dan pasar. Di tengah kondisi ini, semangat belajar anak-anak dan kegigihan orang tua menjadi potret ketangguhan yang jarang tersorot.

Warga berharap ada perhatian nyata dari pemerintah dan pihak terkait. Sebab, bagi mereka, membangun jembatan layak bukan hanya soal infrastruktur, tetapi tentang membuka jalan menuju masa depan generasi muda Jengok — agar perjuangan mereka meniti bambu basah setiap pagi berganti dengan langkah yang lebih aman menuju harapan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....