Sebelum Caci Digelar, Golo Loni Jalankan Ritual Adat
- 02 Okt 2026 12:45 WIB
- Ende
Poin Utama
- Desa Golo Loni di Manggarai Timur mempertahankan serangkaian ritual adat kompleks sebelum pertunjukan Tari Caci sebagai bagian integral dari tradisi masyarakat lokal.
- Ritual adat mencakup kegiatan di lima lokasi strategis: persahabatan, rumah adat, mata air, sawah, dan compang, yang masing-masing memiliki makna spiritualdan budaya tersendiri.
- Pada malam pelaksanaan, masyarakat melakukan ritual penghormatan leluhur di rumah adat dengan mempersembahkan ayam dan peralatan adat sebagai bentuk rasa syukur dan permohonan keselamatan.
RRI.CO.ID, Ende - Tari Caci di Desa Golo Loni, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, tidak serta-merta dimulai di arena pertunjukan. Sebelum para peserta berhadapan dalam atraksi ketangkasan tersebut, masyarakat terlebih dahulu menjalankan rangkaian ritual adat sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan permohonan keselamatan.
Pegiat budaya sekaligus Kepala Desa Golo Loni, Yohanes B. Okalung, mengatakan rangkaian ritual menjadi bagian penting yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan Caci. Ritual dilakukan di sejumlah lokasi yang memiliki nilai adat, mulai dari tempat persahabatan, rumah adat, mata air, sawah, hingga compang.
Menurut Yohanes, rangkaian ritual diawali setelah masyarakat menerima tamu dari desa atau rumah adat lain. Prosesi kemudian dilanjutkan ke mata air dan sejumlah lokasi adat sebagai bagian dari penghormatan serta pemanggilan leluhur.
Pada malam hari, masyarakat melaksanakan ritual di rumah adat dengan mempersembahkan ayam dan sejumlah perlengkapan adat. Prosesi tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus permohonan agar seluruh rangkaian Caci berlangsung dengan selamat.
“Ritual juga dilaksanakan di compang yang dimaknai masyarakat Golo Loni sebagai simbol persatuan dan permohonan perlindungan bagi warga,” ujar Yohanes kepada RRI dalam program Bincang Budaya, Selasa, 29 September 2026.
Ia menjelaskan, dalam salah satu tahapan ritual, perlengkapan Caci seperti larik atau cambuk, nggiling atau perisai, dan nggorong atau lonceng kecil ditempatkan di depan tikar adat. Perlengkapan tersebut kemudian ditetesi darah ayam sebagai bagian dari prosesi adat.
Bagi masyarakat Golo Loni, tahapan tersebut tidak sekadar berkaitan dengan perlengkapan pertunjukan. Ritual menjadi bagian dari upaya menjaga keselamatan, menghormati benda-benda adat, sekaligus mempertahankan hubungan antara manusia, leluhur, dan lingkungan.
Selain sebelum pelaksanaan Caci, terdapat pula proses pembersihan spiritual setelah kegiatan. Pada hari tertentu, masyarakat membatasi sejumlah aktivitas, termasuk tidak pergi ke kebun, ladang, maupun sawah.
“Pelaksanaan ritual ditentukan melalui rembuk para pemangku adat, pemerintah, tokoh pendidikan, tokoh perempuan, dan masyarakat sekitar satu bulan sebelum kegiatan,” katanya.
Tidak hanya peserta, penonton yang hadir dalam pelaksanaan Caci juga memiliki aturan perilaku. Masyarakat dilarang melontarkan ucapan tertentu atau menertawakan secara berlebihan karena dinilai dapat mengganggu konsentrasi peserta ketika berhadapan dengan lawannya.
Di tengah perkembangan zaman, Yohanes mengakui pelaksanaan Caci mengalami sejumlah perubahan. Penggunaan musik modern sebelum pertunjukan dan keterlibatan tamu asing menjadi bagian dari perkembangan tersebut.
Meski demikian, masyarakat Golo Loni tetap mempertahankan substansi ritual adat. Generasi muda juga terus dilibatkan agar mereka tidak hanya mengenal Caci sebagai atraksi ketangkasan, tetapi memahami tahapan adat, makna, serta nilai penghormatan dan persaudaraan yang menyertainya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....