Filosofi Mbaru Niang, Dari Kepemimpinan hingga Musyawarah

  • 30 Sep 2026 10:53 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Barat - Mbaru Niang, rumah adat masyarakat Manggarai, Nusa Tenggara Timur, tidak hanya memiliki bentuk arsitektur yang khas, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai sosial dan sistem kemasyarakatan yang diwariskan secara turun-temurun.

Hal tersebut disampaikan budayawan asal Manggarai Timur, Fidelis Mangkus, dalam dialog Bincang Budaya di RRI Labuan Bajo, Rabu 16 September 2026.

Menurut Fidelis, bentuk Mbaru Niang yang menyerupai kerucut memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan kepemimpinan dan persatuan masyarakat. Struktur bangunan yang mengarah dan menyatu pada satu titik di bagian puncak menggambarkan adanya pusat kepemimpinan adat.

“Bentuk segitiga atau kerucut itu menunjukkan bahwa warga di bawah naungan Mbaru Niang mengakui adanya satu titik pusat kepemimpinan di atas. Seluruh material dan struktur bangunan yang dibentuk menyatu menuju puncak melambangkan persatuan seluruh suku dan pembagian wilayah yang berada di bawah naungan pemimpin tersebut,” ungkap Fidelis.

Filosofi tersebut juga tercermin dalam tata ruang Mbaru Niang. Di dalam rumah adat tersebut terdapat sejumlah bilik yang digunakan para utusan dan tetua dari masing-masing suku untuk melakukan pembahasan sebelum suatu persoalan dibawa ke forum bersama.

Lebih lanjut, Fidelis menyampaikan proses tersebut menjadi bagian dari mekanisme pengambilan keputusan melalui musyawarah. Aspirasi warga terlebih dahulu dibahas oleh para tetua suku, kemudian hasilnya dibawa ke ruang tengah atau lutur untuk dibicarakan bersama.

“Kamar-kamar di dalam Mbaru Niang berfungsi sebagai ruang diskusi awal sebelum masalah atau program suku dibawa ke rapat pleno bersama seluruh warga. Ini adalah bentuk saluran aspirasi yang tertata sejak zaman leluhur,” katanya.

Dalam musyawarah terbuka, pembahasan dilakukan di ruang tengah dengan melibatkan warga. Mekanisme tersebut menunjukkan adanya tahapan dalam proses pengambilan keputusan masyarakat adat Manggarai, mulai dari pembahasan di tingkat suku hingga musyawarah bersama.

Selain tata ruang, Fidelis juga menjelaskan perbedaan antara Mbaru Niang dan rumah gendang. Mbaru Niang memiliki ukuran dan volume bangunan yang lebih besar karena dalam struktur adat tertentu berfungsi sebagai rumah induk yang menaungi beberapa cabang atau kelompok suku.

Menurutnya, berbagai unsur dalam Mbaru Niang menunjukkan bahwa arsitektur tradisional Manggarai tidak hanya berkaitan dengan tempat tinggal, tetapi juga menjadi bagian dari sistem sosial, kepemimpinan, serta tata cara masyarakat dalam mengambil keputusan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....