Mbaru Niang Jadi Pusat Ritual Penti dan Pengelolaan Lahan Masyarakat Manggarai
- 30 Sep 2026 11:41 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Barat - Mbaru Niang memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan agrikultur masyarakat Manggarai. Selain menjadi pusat kehidupan sosial dan budaya, rumah adat tersebut juga menjadi tempat pelaksanaan ritual pertanian serta musyawarah adat dalam mengatur pengelolaan lahan.
Budayawan asal Manggarai Timur, Fidelis Mangkus, mengatakan hal itu dalam dialog Bincang Budaya RRI Labuan Bajo, Rabu 16 September 2026.
Menurut Fidelis, Mbaru Niang memiliki peran penting dalam siklus pertanian masyarakat Manggarai, terutama menjelang musim tanam baru yang umumnya berlangsung pada November hingga Desember.
Salah satu tradisi yang berkaitan dengan siklus pertanian tersebut adalah ritual Penti. Ritual ini menjadi ungkapan syukur atas hasil panen sekaligus bagian dari persiapan masyarakat menghadapi musim tanam berikutnya.
“Ritual Penti adalah momen persiapan diri warga menghadapi musim tanam berikutnya. Acara adat ini tidak bisa dibuat secara terpisah di rumah-rumah pribadi, melainkan wajib dilaksanakan secara terpusat di Mbaru Niang,” ujar Fidelis.
Dalam pelaksanaannya, warga dari berbagai ranting suku berkumpul di Mbaru Niang untuk menjalankan rangkaian ritual adat, termasuk penyembelihan hewan kurban seperti babi atau ayam sesuai hasil kesepakatan dalam musyawarah adat.
Selain menjadi pusat pelaksanaan ritual, Mbaru Niang juga memiliki fungsi dalam pengelolaan lahan adat atau lingko.
Lebih lanjut Fidelis menjelaskan, para tetua adat memanfaatkan Mbaru Niang sebagai tempat bermusyawarah untuk membagi lahan pertanian dan menentukan kalender tanam bagi masing-masing suku maupun anak suku.
Musyawarah adat tersebut dilakukan untuk memastikan pengelolaan tanah ulayat berlangsung secara teratur dan adil serta mencegah munculnya konflik antarwarga.
“Melalui musyawarah adat, para ketua suku merencanakan program pertanian tahunan agar pengelolaan tanah ulayat berjalan adil dan teratur,” jelasnya.
Dirinya juga mengatakan, praktik adat yang berlangsung di Mbaru Niang juga mencerminkan hubungan masyarakat Manggarai dengan alam dan leluhur.
Ia menilai keberadaan Mbaru Niang beserta tradisi yang menyertainya perlu terus dijaga, khususnya oleh generasi muda Manggarai.
“Jika semua ritual dan penghormatan adat kita jalankan sebagaimana mestinya, maka kita percaya kehidupan masyarakat akan rukun, damai, dan sejahtera,” ucap Fidelis.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....