Pemulihan Penyintas Bencana Perlu Menyentuh Aspek Ekonomi

  • 24 Agt 2026 08:47 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Pemulihan penyintas bencana perlu mencakup aspek psikologis, kesehatan, sosial, dan ekonomi secara bersamaan. Penanganan trauma saja belum cukup mengembalikan kehidupan penyintas setelah bencana terjadi secara nyata.

Ditia, Wakil Dekan Fakultas Psikologi UGM, menjelaskan pemulihan berlangsung melalui berbagai sektor kehidupan. Menurutnya, penyintas membutuhkan pemulihan fisik apabila mengalami luka akibat bencana sebelumnya.

Kondisi ekonomi juga perlu diperhatikan ketika penyintas kehilangan pekerjaan atau sumber penghasilan utama. Ditia mencontohkan masyarakat Merapi yang bergantung pada ternak sebagai bagian penting mata pencaharian.

Sebagian warga enggan mengungsi karena khawatir ternak mereka tidak ikut mendapatkan perlindungan selama evakuasi. Karena itu, pemulihan mata pencaharian menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan penyintas pascabencana.

Dukungan pemerintah dapat berupa bantuan tunai, pelatihan, maupun program pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dukungan sosial juga membantu penyintas memperoleh rasa aman selama proses pemulihan berlangsung secara berkelanjutan.

Pemulihan terpadu diperlukan agar penyintas dapat kembali menjalankan kehidupan secara lebih stabil dan normal. Ditia menilai aspek psikologis berkaitan dengan kondisi kehidupan penyintas setelah bencana terjadi sebelumnya.

Luka fisik membutuhkan penanganan medis agar penyintas dapat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari secara normal. Kehilangan pekerjaan juga dapat memengaruhi rasa aman dan kondisi psikologis penyintas secara signifikan.

Karena itu, pemulihan ekonomi menjadi bagian penting dalam proses membangun kembali kehidupan pascabencana. Ditia menyebut bantuan tunai dapat menjadi salah satu bentuk jaring pengaman bagi masyarakat terdampak.

Pelatihan keterampilan juga dapat membantu penyintas memperoleh kembali sumber penghasilan mereka setelah bencana. Program pemberdayaan diperlukan agar masyarakat mampu membangun kemandirian ekonomi setelah bencana secara berkelanjutan.

Dukungan sosial dari lingkungan turut membantu penyintas menghadapi tekanan selama masa pemulihan berlangsung. Menurut Ditia, resiliensi masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kondisi psikologis individu penyintas.

Aspek sosial dan ekonomi juga memengaruhi kemampuan keluarga untuk pulih setelah bencana secara menyeluruh. Karena itu, penanganan bencana membutuhkan kerja bersama berbagai pihak secara terpadu dan berkelanjutan.

Ditia menekankan pemulihan harus memperhatikan kebutuhan nyata masyarakat terdampak di berbagai sektor kehidupan. Pendekatan tersebut membantu penyintas membangun kembali kehidupan sekaligus meningkatkan ketahanan menghadapi risiko berikutnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....