Trauma Bencana Dapat Muncul Kembali saat Terpicu

  • 24 Agt 2026 08:47 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Trauma bencana dapat muncul kembali meski penyintas pulih menjalani kehidupan normal. Ingatan terhadap peristiwa lama dapat aktif ketika penyintas menghadapi pemicu yang mengingatkan pengalaman tersebut.

Ditia Anggraini, Wakil Dekan Fakultas Psikologi UGM, menjelaskan trauma dapat tersimpan sebagai skema kognitif. Menurutnya, stimulus tertentu mampu memunculkan kembali reaksi psikologis serupa seperti ketika bencana terjadi.

Pengalaman erupsi Merapi 2010 menjadi contoh yang diteliti Ditia bersama tim peneliti psikologi. Sejumlah penyintas masih mengingat kehilangan keluarga, ternak, hingga pengalaman menyaksikan warga terdampak bencana.

Ingatan tersebut tidak selalu hilang setelah fungsi kehidupan penyintas kembali berjalan seperti sebelumnya. Namun, Ditia menilai pengalaman bencana juga dapat memberikan dampak positif bagi penyintas pascabencana.

Pengalaman lama dapat mendorong penyintas menyusun rencana evakuasi agar kejadian serupa tidak berulang. Rencana berkumpul keluarga menjadi salah satu bentuk kesiapsiagaan yang dapat dibangun setelah bencana.

Karena itu, pemulihan penyintas perlu memperhatikan kondisi psikologis sekaligus lingkungan sosial yang terdampak. Pemulihan tidak hanya berarti mengurangi trauma, tetapi juga memperbaiki lingkungan kehidupan penyintas menyeluruh.

Ditia mengatakan, pengalaman bencana dapat menjadi pembelajaran untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi risiko berikutnya. Pengetahuan tersebut membantu penyintas mengenali langkah yang perlu dilakukan ketika ancaman kembali muncul.

Pengalaman masa lalu juga dapat membentuk kebiasaan baru dalam menghadapi situasi darurat sehari-hari. Misalnya, keluarga dapat menentukan lokasi berkumpul apabila anggota keluarga terpisah ketika bencana terjadi.

Langkah tersebut membantu mengurangi kebingungan dan meningkatkan kendali ketika kondisi darurat berlangsung kembali. Ditia menekankan kesiapsiagaan membutuhkan latihan agar pengetahuan tidak hilang dari ingatan masyarakat secara rutin.

Menurutnya, masyarakat perlu menggabungkan pembelajaran pengalaman dengan informasi kebencanaan kredibel secara berkelanjutan resmi. Pendekatan tersebut dapat membantu penyintas mengubah pengalaman buruk menjadi kekuatan untuk bersiap menghadapi risiko.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....