Ritus Ploe Kwar Warisan Leluhur Tetap Dilestarikan Masyarakat
- 18 Jun 2026 21:15 WIB
- Ende
Poin Utama
- Ritus Ploe Kwar merupakan tradisi persembahan jagung kepada leluhur masyarakat Atadei.
- Ritual dilaksanakan setiap tahun di Ina Kar sebagai bentuk syukur atas hasil panen.
- Prosesi melibatkan suku Wawin dari Watuwawer dan suku Puhun dari Lewokoba.
- Tradisi mengandung nilai kebersamaan, gotong royong, solidaritas, dan penghormatan kepada leluhur.
RRI.CO.ID, Lembata - Budayawan Lembata, Petrus Ata Tukan, mengungkapkan bahwa Ritus Ploe Kwar merupakan tradisi adat yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Atadei, Kabupaten Lembata. Penjelasan tersebut disampaikannya dalam Program Bincang Budaya RRI, Rabu,17 Juni 2026.
Menurut Petrus, secara harfiah Ploe Kwar berarti memperlihatkan jagung, namun makna sesungguhnya adalah ritual persembahan kepada leluhur sebagai ungkapan syukur atas hasil panen dan permohonan berkat untuk musim tanam berikutnya. Tradisi ini dipusatkan di kawasan Ina Kar yang diyakini sebagai kampung asal leluhur sejumlah suku di wilayah tersebut.
Ia menjelaskan, masyarakat setiap tahun membawa jagung muda ke Ina Kar sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang dipercaya memiliki hubungan historis dengan wilayah itu. Tradisi tersebut juga menjadi penanda dimulainya masa konsumsi jagung baru oleh para pemangku adat dan masyarakat setelah seluruh tahapan ritual selesai dilaksanakan.
Pelaksanaan ritus melibatkan dua kelompok suku utama, yakni suku Wawin dari Watuwawer dan suku Puhun dari Lewokoba. Prosesi diawali dengan penentuan waktu oleh para pemangku adat, dilanjutkan pemotongan jagung pertama, doa adat, arak-arakan menuju Ina Kar, hingga penyerahan persembahan di lokasi ritual.
Petrus menuturkan bahwa Ritus Ploe Kwar tidak hanya berkaitan dengan penghormatan kepada leluhur, tetapi juga mengandung nilai kebersamaan, gotong royong, solidaritas, dan persaudaraan antarsuku. Tradisi tersebut turut memperkuat hubungan antara manusia, alam, dan warisan budaya yang menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Atadei.
Di akhir ritual, jagung hasil persembahan dibagikan kepada para pemangku adat, petugas ritual, serta masyarakat yang hadir sebagai simbol persatuan dan kebersamaan. Setelah ritus berakhir, kawasan Ina Kar dibuka untuk umum dan masyarakat mulai diperbolehkan mengonsumsi jagung hasil panen baru sesuai tata urutan adat yang berlaku.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....