Ritus Dopen Nawa Lestarikan Kearifan Lokal Lamaholot
- 29 Mei 2026 18:53 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende – Ritus Dopen Nawa Nu’um Mayan Lali Duli masih dilestarikan masyarakat Lamaholot di Adonara, Flores Timur, sebagai tradisi adat menghadapi serangan hama tikus yang merusak hasil ladang para petani. Tradisi turun-temurun ini dilakukan dengan mengantar simbol hama ke laut melalui prosesi adat yang sakral dan penuh penghormatan terhadap alam.
Pencinta budaya Lamaholot, Mikael Boro Bebe, mengatakan ritus tersebut diwariskan leluhur sejak ratusan tahun lalu dan masih dipertahankan hingga sekarang oleh masyarakat adat. “Masyarakat Lamaholot memiliki cara yang arif dan lembut dalam menghadapi hama, bukan dengan kekerasan tetapi melalui ritus penghormatan terhadap makhluk hidup,” ujarnya beberapa waktu lalu dalam acara Bincang Budaya bersama Pro 1 RRI Ende.
Ia menjelaskan Dopen Nawa memiliki arti mengantar, sedangkan Nu’um Mayan berarti bencana atau hama. Prosesi adat itu dilakukan ketika serangan tikus meluas dan mengancam hasil panen masyarakat di kampung-kampung adat.
Tahapan ritual diawali dengan musyawarah adat yang melibatkan pemimpin kampung dan tokoh suku untuk menentukan pelaksanaan ritus. Setelah itu, para pemuda ditugaskan menangkap tikus sebagai simbol penghantar sebelum dibawa dalam prosesi menuju laut.
Dalam perjalanan menuju pantai, masyarakat berjalan kaki sambil diiringi bunyi gong, gendang, serta nyanyian adat dan doa-doa pujian. “Suasana dibuat penuh sukacita agar masyarakat tidak larut dalam kesedihan akibat gagal panen,” kata Mikael.
Sesampainya di pantai, tikus bersama bekal berupa hasil ladang ditempatkan dalam perahu kecil lalu dihanyutkan ke laut melalui doa adat. Setelah prosesi selesai, masyarakat kembali ke kampung tanpa boleh menoleh ke belakang sebagai bagian dari pantangan adat yang harus ditaati bersama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....