Fenomena Gengsi Berbahasa Daerah Jadi Tantangan Pelestarian Budaya Manggarai
- 19 Mei 2026 16:15 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Barat - Munculnya rasa gengsi menggunakan bahasa daerah dan atribut budaya lokal menjadi tantangan besar dalam upaya menjaga jati diri generasi muda Manggarai di tengah arus modernisasi.
Fenomena tersebut disoroti perwakilan generasi muda sekaligus pewaris budaya Manggarai, Olland Rangka, dalam dialog dialog Bincang Budaya RRI Labuan Bajo, Rabu 13 Mei 2026.
Menurut Olland, sebagian anak muda saat ini mulai menganggap penggunaan bahasa daerah sebagai sesuatu yang kuno, khususnya di lingkungan perkotaan maupun kampus.
“Sebagian anak muda sekarang, berbicara tentang budaya, terlebih khusus bahasa daerah, ada faktor gengsi yang sangat luar biasa. Kalau kita berbahasa Manggarai misalnya, kita dianggap kuno,” ujarnya.
Dirinya juga mengatakan, stigma tersebut tidak hanya memengaruhi cara berkomunikasi sehari-hari, tetapi juga berdampak pada menurunnya rasa percaya diri generasi muda untuk mengenakan pakaian adat maupun terlibat dalam kegiatan tradisi.
Adapun berdasarkan pengalamannya di lingkungan kampus, Olland menilai banyak mahasiswa lebih bangga mengikuti tren gaya berpakaian modern dibanding menunjukkan identitas budaya lokal.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa rasa malu tersebut bukan muncul karena budaya Manggarai dianggap buruk, melainkan karena budaya lokal belum banyak ditampilkan dengan cara yang menarik dan relevan bagi anak muda.
“Malunya itu muncul karena mereka belum pernah lihat budayanya ditampilkan dengan cara yang keren dan relevan,” katanya.
Selain itu, ia menilai ruang-ruang adat dan ritual budaya selama ini masih dikemas secara formal dan berjarak, sehingga membuat sebagian generasi muda merasa asing terhadap identitas budayanya sendiri.
Akibatnya, fondasi identitas budaya generasi muda dinilai menjadi rapuh dan mudah terpengaruh arus gaya hidup modern yang terus berkembang melalui media sosial.
Guna mengatasi kondisi tersebut, Olland mendorong adanya gerakan kreatif dari kalangan anak muda guna menghadirkan budaya Manggarai dalam kemasan yang lebih modern dan dekat dengan kehidupan generasi sekarang.
Salah satu contoh yang mulai berkembang, kata dia, adalah munculnya produk fesyen seperti kaus modern dengan sentuhan motif songke yang kini mulai diminati anak muda.
Menurutnya, penyampaian budaya yang kreatif dan kekinian menjadi kunci penting agar generasi muda Manggarai kembali bangga terhadap identitas lokal mereka tanpa merasa minder di tengah pergaulan modern.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....