Hang Woja: Ritual Syukur dan Harmoni Manggarai Timur

  • 11 Mei 2026 19:40 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Makna Hang Woja: Merupakan ritual mencicipi hasil panen perdana sebagai bentuk syukur kepada Tuhan dan penghormatan kepada leluhur.
  • Filosofi Kehidupan: Tradisi ini berakar pada lima pilar utama masyarakat Manggarai: rumah, halaman, sumber air, mesbah, dan kebun.
  • Sanksi Adat: Masyarakat percaya bahwa mengonsumsi hasil panen sebelum ritual Hang Woja dapat menyebabkan sakit atau hambatan bagi keluarga.
  • Edukasi Generasi Muda: Pemerintah daerah memasukkan unsur budaya ke dalam muatan lokal sekolah untuk menangkal dampak negatif digitalisasi.
  • Potensi Ekonomi: Pelestarian ritual ini diarahkan sebagai daya tarik wisata budaya yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat melalui festival dan UMKM.

RRI.CO.ID, Manggarai Timur - Masyarakat agraris di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, hingga kini terus merawat tradisi Hang Woja sebagai bentuk syukur atas hasil panen. Ritual adat ini bukan sekadar seremoni pertanian, melainkan simbol keharmonisan antara manusia, alam, dan leluhur yang diwariskan turun-temurun.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Manggarai Timur, Rofinus Hibur Hijau, M.Pd., menjelaskan bahwa secara harfiah Hang Woja berarti "makan padi" atau mencicipi hasil panen perdana, beras dan jagung. Menurutnya, ritual ini wajib dilakukan sebelum masyarakat menikmati hasil buminya guna menghindari kemalangan atau penyakit.

"Ritual ini adalah ungkapan terima kasih kepada Tuhan Sang Pencipta dan para leluhur. Kami meyakini bahwa hasil panen yang melimpah adalah berkat perlindungan mereka dari hama dan penyakit," ujar Rofinus dalam program Bincang Budaya di RRI, Minggu, 10 Mei 2026.

Rofinus menambahkan, tradisi ini didasari oleh lima filosofi hidup masyarakat Manggarai (Lonto Leok), yakni Mbaru (rumah), Natas (halaman), Waebacu (sumber air), Compang (mesbah/altar), dan Uma (kebun). Kelima elemen ini merupakan satu kesatuan yang harus dijaga kesakralannya.

Di tengah arus modernisasi, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur terus berupaya mengintegrasikan nilai-nilai budaya ke dalam kurikulum muatan lokal di sekolah. Hal ini dilakukan agar generasi muda tidak menganggap tradisi sebagai sesuatu yang kuno, melainkan identitas yang membanggakan.

"Kami juga mendorong tradisi ini menjadi daya tarik wisata budaya. Dengan adanya festival dan promosi atraksi seperti tarian Caci yang mengiringi ritual, diharapkan ada dampak ekonomi langsung bagi masyarakat lokal melalui sektor kuliner dan penginapan," katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....