Mahasiswa Ende Serukan Kebangkitan Nasional Melalui Aksi

  • 04 Jun 2026 16:02 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Diskusi digelar dalam rangka Hari Kebangkitan Nasional ke-118.
  • Tema yang diangkat adalah "Dari Kampus untuk Indonesia: Cara Anak Muda Menyalakan Semangat Kebangkitan".
  • Narasumber terdiri dari Aldo, Ketua BEM STPM Santa Ursula Ende, dan Tasya, Ketua HMPS Ilmu Pemerintahan.
  • Kebangkitan generasi muda dimaknai sebagai upaya melawan kemalasan, apatisme, dan sikap individualis.
  • Pragmatisme mahasiswa menjadi tantangan utama dalam menggerakkan organisasi kemahasiswaan.
  • Integritas, kejujuran, tanggung jawab, dan sikap kritis dinilai sebagai nilai penting bagi masa depan bangsa.
  • Mahasiswa diajak aktif berinovasi dan berkontribusi bagi Indonesia menuju tahun 2045.

RRI.CO.ID, Ende - Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-118 menjadi momentum refleksi generasi muda menghadapi tantangan perkembangan zaman digital. Tema "Dari Kampus untuk Indonesia: Cara Anak Muda Menyalakan Semangat Kebangkitan" diangkat dalam diskusi kebangsaan mahasiswa di Pro Dua RRI Ende, Rabu 20 Mei 2026.

Kegiatan tersebut menghadirkan Aldo Meze selaku Ketua BEM STPM Santa Ursula Ende dan Anastasia Sargaling sebagai Ketua HMPS Ilmu Pemerintahan. Keduanya membahas makna kebangkitan nasional yang kini tidak lagi berkutat pada perjuangan melawan penjajah fisik.

Menurut Tasya, tantangan terbesar generasi muda saat ini adalah melawan kemalasan, sikap apatis, dan individualisme berlebihan. "Kebangkitan hari ini adalah bagaimana anak muda berani keluar dari zona nyaman dan peduli lingkungan," katanya. Pandangan tersebut menyoroti perubahan bentuk perjuangan yang kini lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari mahasiswa.

Sementara itu, Aldo menilai kemajuan teknologi harus disikapi secara kritis agar tidak melemahkan daya juang generasi. Mahasiswa, menurutnya, perlu memahami perkembangan media sosial, ekonomi, serta dinamika geopolitik yang memengaruhi bangsa.

Dalam pengalaman memimpin organisasi mahasiswa, keduanya mengakui pragmatisme menjadi tantangan yang sering ditemui saat ini. Banyak mahasiswa lebih mempertimbangkan keuntungan pribadi dibanding dampak jangka panjang dari keterlibatan dalam kegiatan sosial.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Tasya membuka ruang dialog bagi seluruh anggota agar merasa dihargai dan berkembang. "Setiap ide harus diberi tempat karena dari sana tumbuh keberanian dan rasa percaya diri," ujarnya. Aldo juga menerapkan pendekatan pemetaan minat guna mendorong anggota berani tampil serta mengasah kemampuan mereka.

Menutup diskusi, kedua pemimpin mahasiswa itu menekankan pentingnya integritas, kejujuran, tanggung jawab, dan sikap kritis. Mereka mengajak generasi muda Nusa Tenggara Timur bangkit melalui inovasi, kepedulian sosial, serta keberanian menghadapi tantangan masa depan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....