Mahasiswa STIPAR Ende Siapkan Guru Agama Adaptif Digital

  • 04 Jun 2026 16:09 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Mahasiswa semester dua PKK STIPAR Ende berbagi pengalaman kuliah dan motivasi memilih jurusan.
  • Sebagian mahasiswa mengaku memilih program studi karena panggilan menjadi katekis dan pelayan umat.
  • Kehidupan asrama dinilai disiplin sekaligus memberi ruang pengembangan sosial mahasiswa.
  • Calon guru agama dituntut adaptif menghadapi Generasi Alfa yang dekat dengan teknologi digital.
  • Media sosial, kuis digital, dan gim edukatif dipandang efektif untuk pembelajaran keagamaan.
  • Mahasiswa berharap lulus tepat waktu serta mengimplementasikan ilmu dan etika di masyarakat.

RRI.CO.ID, Ende - Mahasiswa semester dua Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik (PKK) STIPAR Ende membagikan pengalaman kuliah mereka melalui diskusi interaktif di Pro Dua RRI Ende, Jumat 1 Mei 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan sembilan mahasiswa dalam tiga segmen berbeda yang membahas motivasi, tantangan, serta harapan masa depan.

Pada segmen pertama, Dino, Novi, dan Iren mengisahkan alasan memilih jurusan Pendidikan Keagamaan Katolik sebagai jalan pengabdian. Mereka mengikuti perbincangan santai yang mengulas panggilan hidup, pengalaman asrama, hingga pandangan masyarakat terhadap calon guru agama.

Dino dan Novi menyebut pilihan kuliah mereka lahir dari keinginan menjadi katekis sekaligus pelayan umat sejak awal. Sementara itu, Iren mengaku sempat bercita-cita menempuh pendidikan keperawatan di Malang sebelum memilih STIPAR Ende.

"Pilihan ini memang panggilan hidup untuk melayani umat melalui pendidikan dan karya pastoral," ungkap Dino. Iren juga menceritakan kehidupan asrama yang dimulai sejak pagi dengan misa harian serta berbagai kegiatan pembinaan.

Mahasiswa juga menyoroti perubahan peran guru agama pada era digital melalui diskusi bersama Heron, Selina, dan Icha. Mereka menilai pendekatan pembelajaran harus menyesuaikan karakter Generasi Alfa yang sangat dekat dengan teknologi digital.

Alih-alih melarang penggunaan gawai secara langsung, mereka memilih memanfaatkan platform digital sebagai sarana pembelajaran kreatif. "Media sosial dan gim edukatif bisa menjadi jembatan untuk menyampaikan nilai keagamaan secara menarik," kata Selina.

Segmen terakhir menghadirkan Andi, Intan, dan Marlin melalui permainan pilihan cepat yang menggambarkan preferensi mengajar masing-masing. Di penghujung acara, seluruh mahasiswa berharap dapat menyelesaikan studi tepat waktu serta menerapkan ilmu dan etika secara nyata dalam kehidupan masyarakat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....