Gedung Rusak Berat, SDI Tiwu Lenang Belajar di Tenda Darurat

  • 01 Okt 2026 08:34 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Timur – Proses belajar mengajar di SDI Tiwu Lenang, Desa Rana Gapang, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, tetap berlangsung meski gedung sekolah mengalami kerusakan berat akibat gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus lalu.

Demi keselamatan siswa dan guru, kegiatan belajar mengajar dipindahkan ke ruang kelas darurat yang dibangun secara swadaya oleh pihak sekolah bersama orang tua murid. Ruang belajar tersebut menggunakan rangka bambu dan kayu dengan penutup terpal yang sebagian berasal dari sumbangan masyarakat.

Guru SDI Tiwu Lenang, Oktavianus Besi, mengatakan pembangunan ruang kelas darurat dilakukan agar proses pendidikan tetap berjalan sekaligus memberikan tempat yang lebih aman bagi siswa di tengah kondisi bangunan sekolah yang tidak lagi layak digunakan.

"Kami membangun ruang kelas darurat ini agar anak-anak tetap bisa belajar sekaligus merasa aman. Ini juga mengikuti arahan pemerintah, mengingat bangunan kami sudah tidak bisa dipakai," ujar Oktavianus.

Keterbatasan ruang belajar membuat sekolah menerapkan sistem pembelajaran secara bergiliran. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok untuk menggunakan ruang darurat yang tersedia sehingga seluruh peserta didik tetap mendapatkan layanan pendidikan.

Menurut Oktavianus, kondisi tersebut masih menjadi tantangan bagi guru dan siswa. Selain keterbatasan ruang, kondisi cuaca yang tidak menentu juga menjadi kendala karena proses pembelajaran berlangsung di ruang terbuka yang hanya dilindungi terpal.

"Kami berharap bencana ini segera berlalu, agar anak-anak bisa kembali belajar dengan nyaman di tempat dan gedung yang layak," katanya.

Perwakilan orang tua murid, Hendrikus Rabu, mengapresiasi upaya kepala sekolah dan para guru yang tetap memberikan pelayanan pendidikan kepada anak-anak meski menghadapi keterbatasan. Menurutnya, keputusan memindahkan proses belajar ke ruang darurat merupakan langkah yang diperlukan untuk mengutamakan keselamatan siswa dan guru, terutama karena gempa susulan masih terjadi.

"Kami sangat berterima kasih kepada bapak dan ibu guru yang tetap hadir dan melayani anak-anak kami. Belajar di luar gedung memang langkah yang tepat demi keselamatan semua, apalagi gempa susulan masih terus terjadi," ujar Hendrikus.

Orang tua murid juga ikut bergotong royong menyediakan bahan dan tenaga untuk membangun ruang belajar darurat. Bambu, kayu, hingga terpal dikumpulkan secara swadaya sesuai kemampuan masyarakat. "Kami bangun bersama, dari bambu, kayu, dan terpal yang kami sumbangkan sendiri. Sederhana saja, tapi ini bukti kami tak menyerah,"ucapnya.

Meski ruang belajar darurat telah tersedia, kebutuhan perlengkapan masih menjadi persoalan. Sejumlah bagian bangunan belum tertutup secara maksimal sehingga siswa dan guru masih menghadapi kondisi yang kurang nyaman, terutama ketika hujan atau cuaca berubah.

Hendrikus berharap pemerintah dapat memberikan dukungan berupa terpal maupun kebutuhan lain untuk memperkuat ruang belajar sementara tersebut. "Kami memohon bantuan terpal dari pemerintah. Anak-anak kami butuh tempat yang lebih terlindungi agar bisa belajar dengan tenang," ungkapnya.

Kebutuhan ruang belajar darurat dan perlengkapan pendukung juga dirasakan sejumlah sekolah lain di Kecamatan Elar yang terdampak gempa. Kebutuhan tersebut terutama berkaitan dengan penyediaan ruang belajar sementara agar kegiatan pendidikan tetap dapat berlangsung selama bangunan sekolah yang terdampak belum dapat digunakan secara normal.

Bagi masyarakat dan para pendidik di Kecamatan Elar, ruang belajar darurat menjadi solusi sementara untuk memastikan anak-anak tetap memperoleh pendidikan pascabencana. Namun, kondisi tersebut juga menunjukkan perlunya dukungan lebih lanjut agar proses belajar mengajar dapat berlangsung dalam lingkungan yang lebih aman dan terlindungi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....