Kerendahan Hati Menuntun Kita Berani Meminta Maaf
- 15 Sep 2026 09:14 WIB
- Ende
Poin Utama
- Pdt. Firdaus Ariyanto Solavide Mesakh dalam Mimbar Agama Protestan di Ende mengajak umat untuk menyikapi persoalan kehidupan dengan kerendahan hati.
- Pesan utama berfokus pada pentingnya mengakui kesalahan dan berani meminta maaf sebagai langkah perbaikan diri.
- Pelajaran diambil dari kisah Simon Petrus dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa manusia dapat berbuat salah tetapi yang penting adalah kesadaran dan perbaikan diri.
RRI.CO.ID,Ende — Pdt. Firdaus Ariyanto Solavide Mesakh mengajak umat Protestan menghadapi persoalan kehidupan dengan kerendahan hati, terutama dengan berani mengakui kesalahan dan meminta maaf. Pesan tersebut disampaikan dalam Mimbar Agama Protestan RRI Pro 1 Ende, Senin, 14 September 2026, dengan topik “Jika Ada Masalah, Siapakah yang Akan Datang Meminta Maaf?”.
Dalam renungannya, Pdt. Firdaus mengambil pelajaran dari kisah Simon Petrus dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa setiap manusia dapat melakukan kesalahan. Menurutnya, yang terpenting bukan sekadar kesalahan yang dilakukan, tetapi keberanian untuk menyadarinya dan mengambil langkah memperbaiki diri.
Ia menjelaskan, persoalan dalam kehidupan sering kali menjadi semakin besar ketika masing-masing pihak mempertahankan ego dan memilih menunggu orang lain meminta maaf terlebih dahulu. Karena itu, keberanian untuk mengambil langkah pertama menjadi bagian penting dalam memulihkan hubungan yang mengalami keretakan.
“Ketika terjadi masalah, jangan selalu menunggu orang lain datang meminta maaf. Kita juga perlu berani melihat diri sendiri, mengakui kesalahan, dan mengambil langkah pertama untuk berdamai,” kata Pdt. Firdaus.
Pdt. Firdaus menjadikan kisah Simon Petrus sebagai gambaran bahwa kegagalan tidak harus menjadi akhir perjalanan seseorang. Petrus yang pernah menyangkal Yesus sebanyak tiga kali tetap mendapat kesempatan untuk bertobat, memperbaiki diri, dan kembali menjalankan tanggung jawabnya.
Dari kisah tersebut, umat diajak memahami bahwa kesalahan perlu diikuti dengan pertobatan dan kemauan untuk berubah. Sikap rendah hati juga diperlukan agar seseorang mampu melakukan introspeksi sebelum menyalahkan atau menuntut orang lain.
Menurut Pdt. Firdaus, sebelum meminta orang lain mengakui kesalahan, setiap pribadi perlu bertanya kepada diri sendiri apakah dirinya juga memiliki bagian dalam persoalan yang terjadi. Kesediaan mengakui kesalahan dan meminta maaf bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian untuk memperbaiki keadaan.
Ia menambahkan, sikap saling memaafkan penting dalam membangun hubungan di dalam keluarga, persekutuan, maupun kehidupan sosial. Konflik yang dibiarkan tanpa penyelesaian dapat meninggalkan luka dan semakin menjauhkan satu sama lain.
Melalui Mimbar Agama Protestan tersebut, umat diajak untuk tidak terjebak pada kegagalan masa lalu, tetapi menggunakan setiap persoalan sebagai kesempatan untuk bertumbuh. Kerendahan hati, keberanian meminta maaf, dan kesediaan memberikan maaf menjadi langkah yang dapat membuka jalan bagi pemulihan hubungan.
Pdt. Firdaus mengingatkan, ketika masalah terjadi, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya tentang siapa yang salah, tetapi juga siapa yang bersedia mengambil langkah pertama untuk memperbaiki keadaan. Dengan demikian, kehidupan bersama dapat kembali dibangun dalam kasih dan saling menghargai.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....