Anak Muda Perlu Filter Hadapi Arus Digital

  • 05 Sep 2026 15:36 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Pater Charles Lamaberaf mengajak generasi muda tetap berakar pada iman tanpa menutup diri terhadap perbedaan.
  • Ruang digital memperluas interaksi, tetapi juga dapat memperbesar prasangka, kebencian, stereotip, dan fanatisme.
  • Generasi muda perlu kritis menghadapi tren media sosial, FOMO, dan perkembangan teknologi.
  • Filter diri terbentuk dari agama, keluarga, pendidikan, dan pengalaman hidup.
  • Perbedaan pandangan tidak harus berujung permusuhan, melainkan dapat menjadi ruang menghargai keberagaman.
  • Teknologi perlu digunakan untuk memperdalam iman dan menyebarkan nilai kebaikan yang inklusif.

RRI.CO.ID, Sikka - Pater Charles Lamaberaf, S.Fil., M.Sc, mengajak anak muda membangun keteguhan iman menghadapi perubahan zaman dan derasnya arus digital. Pesan tersebut disampaikan dalam pembahasan Faith Without Filter tentang iman, keraguan, tekanan sosial, serta kehidupan generasi muda.

Menurut Pater Charles, kemajuan teknologi memperluas perjumpaan manusia dari berbagai latar belakang melalui ruang digital yang semakin terbuka. Namun, perkembangan tersebut juga berpotensi memperbesar prasangka berupa kebencian, stereotip, dan fanatisme ketika tidak disikapi secara bijaksana.

“Anak muda perlu berakar kuat dalam iman, tetapi tidak boleh menutup diri terhadap perbedaan,” ujar Pater Charles. Sikap moderat diperlukan agar generasi muda mampu mempertahankan keyakinan sekaligus menghargai keberagaman yang hadir dalam kehidupan sosial.

Ia juga mendorong generasi muda bersikap kritis terhadap tren media sosial, fenomena FOMO, serta perkembangan teknologi yang bergerak cepat. Menurutnya, kemampuan mengikuti perubahan perlu berjalan bersama kesadaran untuk mempertanyakan informasi sebelum menerimanya sebagai kebenaran.

Pater Charles menjelaskan bahwa setiap anak muda membutuhkan filter diri untuk menyaring informasi dan konten yang dikonsumsi sehari-hari. Filter tersebut terbentuk melalui ajaran agama, keluarga, pendidikan, serta pengalaman hidup yang membantu seseorang menentukan pilihan secara bijaksana.

“Berbeda pandangan bukan alasan untuk bermusuhan, tetapi kesempatan belajar menghargai dan menghormati keberagaman sesama,” katanya. Ia mengingatkan generasi muda agar tidak mudah terbawa arus konsumerisme maupun paham ekstrem yang berkembang melalui ruang digital.

Pemanfaatan teknologi, menurutnya, perlu diarahkan sebagai sarana memperdalam iman sekaligus menyebarkan nilai kebaikan secara inklusif. Generasi muda diharapkan mampu menggunakan ruang digital dengan santai, kritis, dan bertanggung jawab tanpa kehilangan akar nilai kehidupan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....