Menjadi Kecil di Hadapan Tuhan, Besar dalam Kasih

  • 13 Agt 2026 13:11 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Penyuluh Agama Katolik Yasinta Matro Situ mengajak umat Katolik untuk menghayati makna kerendahan hati dan kasih dalam kehidupan sehari-hari melalui program Mimbar Agama Katolik RRI.
  • Pesan spiritual didasarkan pada bacaan Injil Matius 18:1-5 dan 10, 12-14 yang menggunakan anak kecil sebagai gambaran hati yang tulus, sederhana, percaya, tidak sombong, dan terbuka menerima kasih Tuhan.
  • Menurut Yasinta, kerendahan hati dan keterbukaan dalam menerima kasih Tuhan adalah kunci untuk menjadi besar dalam Kerajaan Surga menurut ajaran Yesus.

RRI.CO.ID, Ende - Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kabupaten Ende, Yasinta Matro Situ, S.Ag., mengajak umat Katolik untuk menghayati makna kerendahan hati dan kasih dalam kehidupan sehari-hari. Pesan tersebut disampaikan Yasinta dalam program Mimbar Agama Katolik RRI, Selasa, 11 Agustus 2026, dengan tema “Menjadi Kecil di Hadapan Tuhan dan Menjadi Besar dalam Kasih.”

Dalam renungannya, Yasinta mengangkat bacaan Injil Matius 18:1-5 dan 10, 12-14 tentang pertanyaan para murid mengenai siapa yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Ia menjelaskan, Yesus menjawab pertanyaan tersebut dengan menghadirkan seorang anak kecil di tengah para murid. Menurut Yasinta, anak kecil menjadi gambaran hati yang tulus, sederhana, percaya, tidak sombong, dan terbuka menerima kasih Tuhan.

“Menjadi seperti anak kecil bukan berarti menjadi kekanak-kanakan, melainkan memiliki hati yang penuh percaya kepada Bapa,” ucapnya. Yasinta mengatakan, ajaran Yesus menjadi penting di tengah kehidupan manusia yang kerap mengukur keberhasilan berdasarkan jabatan, kekuasaan, kehormatan, pengaruh, maupun popularitas.

Menurut dia, kebesaran di hadapan Allah justru tampak dalam kerelaan melayani, mengampuni, menghargai sesama, serta tetap rendah hati ketika memperoleh keberhasilan. “Kerendahan hati bukan berarti rendah diri. Kerendahan hati berarti menyadari bahwa segala yang kita miliki adalah anugerah Tuhan,” ujarnya.

Dalam renungan tersebut, Yasinta juga mengajak umat untuk meneladani kasih Allah melalui perumpamaan tentang domba yang hilang. Ia menegaskan, bagi Tuhan setiap pribadi memiliki nilai dan tidak seorang pun dianggap tidak penting.

Karena itu, umat Katolik diajak memberikan perhatian kepada mereka yang terpinggirkan, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun lingkungan gereja. “Jangan biarkan mereka yang miskin, sakit, lanjut usia, penyandang disabilitas, atau yang sedang mengalami gangguan kesehatan jiwa merasa sendirian,” katanya.

Yasinta juga mengingatkan umat agar tidak hanya memperhatikan orang-orang yang aktif dalam kehidupan menggereja, tetapi turut merangkul mereka yang mulai menjauh dari kehidupan menggereja. Pada kesempatan tersebut, ia mengaitkan pesan Injil dengan teladan Santa Clara dari Asisi yang diperingati Gereja Katolik pada 11 Agustus.

Santa Clara disebut memilih meninggalkan kehidupan mewah sebagai putri bangsawan untuk mengikuti Kristus dalam kesederhanaan, kemiskinan, dan kehidupan doa. Menurut Yasinta, teladan Santa Clara menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada harta maupun pujian manusia, melainkan pada kedekatan dengan Tuhan dan kesediaan melayani sesama.

Ia mengajak umat melakukan refleksi diri dengan bertanya apakah selama ini lebih suka dihormati daripada menghormati, sulit menerima kritik, masih memandang rendah orang lain, serta sudah peduli terhadap mereka yang tersisihkan. Yasinta berharap Sabda Tuhan dapat membarui kehidupan umat agar semakin rendah hati, mengasihi, peduli, dan menyerupai Kristus sebagai Gembala yang baik.

Ia menutup renungan dengan pesan bahwa kebesaran seseorang di hadapan Tuhan tidak ditentukan oleh tingginya kedudukan, tetapi oleh kerendahan hati dan besarnya kasih kepada sesama. Yasinta juga mengajak umat mendoakan Gereja agar semakin setia menjadi rumah bagi semua orang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....