Kemurnian Hati Menjadi Fondasi Utama Kehidupan Iman Kristiani Sejati
- 05 Agt 2026 08:08 WIB
- Ende
Poin Utama
- Pesan Injil Matius 15:1-2, 10-14 menegaskan bahwa Yesus mengajarkan manusia tidak menjadi najis karena apa yang masuk ke dalam mulut, melainkan karena apa yang keluar dari hati.
- Ajakan ini bertujuan agar umat Katolik tidak terjebak pada praktik keagamaan yang hanya bersifat lahiriah, tetapi mengutamakan pertobatan batin yang nyata.
RRI.CO.ID, Ende - Servasius Yano, Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kabupaten Ende, mengajak umat Katolik untuk memaknai kemurnian hati sebagai dasar utama dalam menjalani kehidupan iman. Ajakan itu disampaikan dalam program Mimbar Agama Katolik yang disiarkan RRI Pro 1 Ende, Selasa, 4 Agustus2026, dengan mengangkat tema Kemurnian Hati sebagai Sumber Kehidupan Iman berdasarkan Injil Matius 15:1-2, 10-14.
Dalam renungannya, Servasius menjelaskan bahwa Yesus menegaskan manusia tidak menjadi najis karena apa yang masuk ke dalam mulut, melainkan karena apa yang keluar dari hati. Menurutnya, pesan Injil tersebut mengingatkan umat agar tidak terjebak pada praktik keagamaan yang hanya bersifat lahiriah, tetapi mengutamakan pertobatan batin yang nyata.
Ia mengatakan tradisi dan tata cara keagamaan tetap memiliki nilai penting, namun tidak boleh dijadikan alasan untuk menghakimi sesama ataupun menutupi kekosongan spiritual. Sebaliknya, hati yang dipenuhi kasih, kejujuran, dan kerendahan hati menjadi sumber lahirnya perkataan serta tindakan yang mencerminkan iman kepada Kristus.
Servasius juga menyoroti tanggung jawab para pemimpin, baik dalam keluarga, Gereja, maupun masyarakat, agar memiliki keteladanan moral sebelum membimbing orang lain. Ia mengingatkan bahwa peringatan Yesus mengenai "orang buta menuntun orang buta" merupakan pesan agar setiap pemimpin terus membarui diri sehingga tidak menyesatkan mereka yang dipimpinnya.
Selain itu, ia mengajak umat mewujudkan iman melalui kepedulian kepada kaum miskin, kelompok yang terpinggirkan, serta mereka yang memiliki perbedaan pandangan. Menurutnya, solidaritas yang lahir dari hati yang dimurnikan akan menghadirkan relasi sosial yang lebih jujur, penuh belas kasih, dan mencerminkan semangat Injil.
Melalui permenungan tersebut, Servasius berharap umat tidak hanya mendengarkan sabda Tuhan, tetapi juga menghayatinya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan hati yang terus dimurnikan, ia meyakini kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat akan semakin dipenuhi kasih, pengampunan, serta kesaksian iman yang hidup.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....