Distan Flores Timur Perkuat Antisipasi Dampak Cuaca terhadap Pertanian
- 15 Jul 2026 09:07 WIB
- Ende
Poin Utama
- Kondisi cuaca di Flores Timur hingga pertengahan Juli 2026 masih normal dan belum memberikan dampak signifikan terhadap sektor pertanian menurut Plt. Kepala Dinas Pertanian.
- Pemerintah Kabupaten Flores Timur membangun 34 sumur bor (16 titik dari APBD dan 18 titik dari APBN) untuk menjaga ketersediaan air pada musim kemarau.
- Dinas Pertanian berkoordinasi dengan BMKG, BPBD, dan penyuluh pertanian untuk menyampaikan informasi prakiraan cuaca dan membantu petani menentukan waktu tanam optimal.
RRI.CO.ID, Flores Timur - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Flores Timur memastikan kondisi cuaca yang terjadi di wilayah setempat hingga pertengahan Juli 2026 masih berada dalam kategori normal dan belum memberikan dampak signifikan terhadap sektor pertanian. Hal itu disampaikan Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Flores Timur, Yosef Sadi Openg, S.P., M.Si., dalam Dialog Kentongan RRI Ende, Selasa, 14 Juli 2026.
Yosef mengatakan aktivitas pertanian pada lahan kering saat ini masih didominasi tahap persiapan lahan karena memasuki musim kemarau. Sementara itu, komoditas hortikultura masih dapat berkembang dengan memanfaatkan sumber air dari sumur maupun aliran sungai sehingga belum mengalami gangguan akibat perubahan cuaca.
Meski demikian, Dinas Pertanian tetap memetakan wilayah yang memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi terhadap kekeringan, seperti Pulau Solor dan wilayah Demon Pagong yang dikenal memiliki curah hujan relatif rendah. Menurut Yosef, kondisi pada musim tanam tahun 2026 di kedua wilayah tersebut masih tergolong normal sehingga aktivitas pertanian berjalan dengan baik.
Sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi cuaca ekstrem, pemerintah daerah memperkuat upaya mitigasi melalui penyediaan sumber air bagi petani. Tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Flores Timur membangun 16 titik sumur bor yang didanai APBD serta didukung pembangunan 18 titik sumur dari APBN untuk menjaga ketersediaan air pada musim kemarau.
Selain pembangunan infrastruktur air, Dinas Pertanian terus berkoordinasi dengan BMKG, BPBD, pemerintah kecamatan, desa, dan para penyuluh pertanian lapangan untuk menyampaikan informasi prakiraan cuaca kepada petani. Informasi tersebut menjadi dasar dalam menentukan waktu tanam, memilih benih unggul berumur genjah, hingga menerapkan pola budidaya yang sesuai dengan kondisi iklim.
Yosef menambahkan pemerintah juga menjamin dukungan sarana produksi melalui penyediaan benih unggul, pupuk bersubsidi, serta bantuan alat dan mesin pertanian yang disalurkan kepada kelompok tani. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan ketahanan sektor pertanian sekaligus meminimalkan risiko kerugian apabila terjadi cuaca ekstrem pada musim tanam mendatang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....